Kamis, 25 Oktober 2012

Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Konservasi Alam


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Iklim adalah kondisi rata-rata cuaca dalam waktu yang panjang. Iklim di bumi sangat dipengaruhi oleh posisi matahari terhadap bumi. Terdapat beberapa klasifikasi iklim di bumi ini yang ditentukan oleh letak geografis. Di Indonesia secara umum kita dapat menyebutnya sebagai iklim tropis, lintang menengah dan lintang tinggi.Seluruh kepulauan Indonesia yang letaknya sepanjang khatulistiwa antara 6˚ LU dan 11˚ LS dan antara 95˚ dan 141˚ BT termasuk daerah beriklim tropis. Sifat utamanya ialah suhu yang selalu tinggi, tanpa penyimpangan– penyimpangan yang besar, sehingga dalam hal ini dipelajarilah mengenai iklim di Indonesia salah satunya yaitu mengenai jenis-jenis iklim di Indonesia serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Adapun guna dari mempelajari lebih lanjut mengenai Iklim di Indonesia beserta macam serta faktor yang dapat mempengaruhi iklim di Indonesia yang mana akan berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Selain itu hal ini juga berpengaruh pada keadaan tanah yang menjadi media tumbuh untuk tanaman yang dibudidayakan.
Pada saat yang sama Indonesia beresiko mengalami kerugian yang signifikan karena perubahan iklim, karena keberadaannya sebagai negara kepulauan, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Kekeringan yang semakin panjang, frekuensi peristiwa cuaca ekstrem yang semakin sering, dan curah hujan tinggi yang berujung pada bahaya banjir besar semuanya merupakan contoh dari dampak perubahan iklim. Terendamnya sebagian daratan Negara (seperti yang terjadi di Teluk Jakarta)  telah mulai terjadi. Demikian pula, keberagaman spesies hayati yang sangat kaya dimiliki Indonesia juga berada dalam resiko yang sangat besar. Pada gilirannya, hal ini akan membawa efek yang merugikan bagi sektor pertanian, perikanan dan kehutanan, sehingga berujung kepada terciptanya ancaman atas ketersediaan pangan dan penghidupan.
Pemanasan global akan meningkatkan temperatur, memperpendek musim hujan, dan meningkatkan intensitas curah hujan. Kondisi ini dapat mengubah kondisi air dan kelembaban tanah yang akhirnya akan mempengaruhi sektor pertanian dan ketersediaan pangan. Perubahan iklim dapat menurunkan tingkat kesuburan tanah sebesar 2-8 %, sehingga menurunkan hasil panen beras. Suatu model simulasi perubahan iklim telah memproyeksikan penurunan yang signifikan dari hasil panen di Jawa Barat dan Jawa Timur.
Pemanasan global juga akan menaikkan level permukaan air laut, sehingga menggenangi daerah pesisir produktif yang sekarang digunakan sebagai lahan pertanian. Misalnya, di daerah Karawang, Jawa Barat, suplai beras lokal akan mengalami reduksi besar sebagai dampak dari penggenangan tersebut. Juga, kerugian dari sektor produksi ikan dan udang di daerah yang sama dapat mencapai angka sebesar lebih dari 7.000 ton. Jika prediksi ini menjadi nyata, beribu-ribu petani di kawasan tersebut harus mencari sumber penghidupan yang lain.
Tak hanya itu, perubahan iklim juga akan meningkatkan dampak buruk dari wabah penyakit yang ditularkan melalui air atau vektor lain seperti nyamuk. Pada akhir dekade 1990an, El Nino dan La Nina diasosiasikan dengan wabah malaria dan DBD. Akibat dari meningkatnya temperatur, malaria kini juga mengancam daerah yang sebelumnya tak tersentuh karena suhu dingin, seperti dataran tinggi Irian Jaya 2013 m. di atas permukaan laut) pada tahun 1997 (Climate Hotmap). Riset juga telah mengkonfirmasi hubungan antara peningkatan temperatur dan mutasi virus DBD. Ini berarti kasus-kasus DBD yang ada menjadi lebih sulit ditangani dan menimbulkan lebih banyak korban jiwa.
Problem kesehatan lainnya juga dapat diperparah karena perubahan iklim. Contohnya, manusia dengan penurunan fungsi jantung sangat mungkin menjadi lebih rentan dalam cuaca yang panas karena mereka membutuhkan energi lebih untuk mendinginkan tubuh mereka. Suhu panas juga dapat mencetuskan masalah pernapasan. Konsentrasi zat ozone di level permukaan tanah akan meningkat karena pemanasan suhu. Ini akan menyebabkan kerusakan pada jaringan paru-paru manusia.
Akhir-akhir ini kita sering mendengar berita tentang musibah bencana alam, seperti banjir, tanah longsor, badai salju, bencana kekeringan, dan lain sebagainya. Pada awalnya saya berpikir, mengapa bencana alam sekarang ini cenderung meningkat dari waktu-kewaktu? Sebenarnya saya sendiri kurang yakin juga jika bencana alam itu hanya banyak terjadi akhir-akhir ini, besar kemungkinan bencana alam juga sering terjadi dimasa lampau cuma kita saja yang tidak mengetahuinya, hal itu terbukti dari banyak cerita tentang kehancuran bumi dimasa lalu akibat bencana alam.
Bencana alam yang sering terjadi akhir-akhir ini apakah hanya terjadi disekitar kita (Indonesia)? Ternyata tidak juga, karena berdasarkan berita-berita dari negara-negara di dunia, mereka juga tidak luput dari bencana alam yang melanda negerinya. Lantas ada fenomena apa sebenarnya mengapa akhir-akhir ini banyak terjadi bencana alam dari seluruh dunia itu?
Paruh waktu perjalanan tahun 2010 sebagai Tahun Keanekaragaman Hayati Internasional (International Year of Biodiversity) mempunyai makna penting bagi keanekaragaman hayati pesisir dan laut di Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan tingkat keanekeragaman hayati pesisir dan laut yang tinggi, pelestarian keanekaragaman hayati merupakan hal yang mendasar serta mendesak untuk dilaksanakan. Laju kerusakan keanekaragaman hayati pesisir dan laut serta kepunahan beberapa spesies langka seakan berpacu dengan waktu. Dominansi laju tersebut terkadang bahkan seakan menenggelamkan upaya penyelamatan dan pelestarian keanekaragaman hayati laut dan pesisir di Indonesia.  Sebagai negara yang ikut berkomitmen dalam ‘The 2005 World Review Summit’ untuk mengurangi laju kepunahan keanekaragaman hayati secara substansial pada tahun 2010, Indonesia dituntut untuk mengejewantahkannya dalam penurunan laju kerusakan, khususnya untuk keanekaragaman hayati pesisir dan laut yang terus menerus menerima dampak kerusakan baik yang bersumber dari dalam ekosistem itu sendiri maupun dari  ekosistem lainnya.
Pesan kunci peringatan Tahun Keanekaragaman Hayati Internasional yang berbunyi Biodiversity is life, Biodiversity is our life (Keanekaragaman hayati adalah kehidupan, Keanekaragaman hayati adalah kehidupan kita) juga menegaskan pentingnya kepedulian dan upaya bersama untuk menekan laju kerusakan keanekaragaman hayati, khususnya yang berada di laut dan pesisir. Nilai kegunaan dan manfaat keanekaragaman hayati pesisir dan laut terlalu besar biaya ekologinya jika terus dibiarkan berada dalam kebrutalan pengrusakan dan pemusnahan.
Keanekaragaman hayati pesisir dan laut merupakan seluruh keanekaan bentuk kehidupan di pesisir dan laut, beserta interaksi di antara bentuk kehidupan tersebut dan antara bentuk kehidupan tersebut dengan lingkungannya. Keanekaragaman hayati pesisir dan laut merujuk pada keberagaman bentuk-bentuk kehidupan di pesisir dan laut: tanaman yang berbeda-beda, hewan dan mikroorganisme, gen-gen yang terkandung di dalamnya, dan ekosistem yang mereka bentuk.  Kekayaan hidup ini adalah hasil dari sejarah ratusan juta tahun berevolusi yang jika hilang akan susah untuk pulih bahkan bisa hilang untuk selamanya.

B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui tentang perubahan iklim dan dampaknya terhadap keanekaragaman hayati.

C. Manfaat Penulisan
Tulisan ini diharapkan dapat memberikan tambahan informasi bagi para pembaca tentang perubahan iklim dan dampaknya bagi kehidupan khususnya keanekaragaman hayati.




BAB II
ISI

2.1 Pengertian Iklim
Ada beberapa pengertian dari Iklim seperti:
Ø  keadaan rata-rata cuaca yang terjadi pada suatu wilayah yang luas dan dalam kurun waktu yang lama (25-30 tahun) (Anonim, 2010).
Ø  berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi antar lain suhu dan distribusio curah hujan yang membawa dampak luas terhadap berbagai sektok kehidupan manusia. Perubahan fisik ini tidak terjadi secara sesaan tetapi dalam kurun waktu yang panjang (Kementrian lingkungan hidup, 2001).
Ø  Iklim adalah Sintesis kejadian cuaca selama kurun waktu yang panjang, yang secara statistik cukup dapat dipakai untuk menunjukkan nilai statistik yang berbeda dengan keadaan pada setiap saatnya (World Climate Conference, 1979).
Ø  Iklim adalah Konsep abstrak yang menyatakan kebiasaan cuaca dan unsur-unsur atmosfer disuatu daerah selama kurun waktu yang panjang (Trewartha, 1980).

2.2. Keanekaragaman hayati
Keanekaragaman hayati atau biodiversitas (Bahasa Inggris: biodiversity) adalah suatu istilah pembahasan yang mencakup semua bentuk kehidupan, yang secara ilmiah dapat dikelompokkan menurut skala organisasi biologisnya, yaitu mencakup gen, spesies tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme serta ekosistem dan proses-proses ekologi dimana bentuk kehidupan ini merupakan bagiannya. Dapat juga diartikan sebagai kondisi keanekaragaman bentuk kehidupan dalam ekosistem atau bioma tertentu. Keanekaragaman hayati seringkali digunakan sebagai ukuran kesehatan sistem biologis (Leveque & Mounolou, 2003).
Keanekaragaman hayati tidak terdistribusi secara merata di bumi; wilayah tropis memiliki keanekaragaman hayati yang lebih kaya, dan jumlah keanekaragaman hayati terus menurun jika semakin jauh dari ekuator. Keanekaragaman hayati yang ditemukan di bumi adalah hasil dari miliaran tahun proses evolusi. Asal muasal kehidupan belum diketahui secara pasti dalam sains. Hingga sekitar 600 juta tahun yang lalu, kehidupan di bumi hanya berupa archaea, bakteri, protozoa, dan organisme uniseluler lainnya sebelum organisme multiseluler muncul dan menyebabkan ledakan keanekaragaman hayati yang begitu cepat, namun secara periodik dan eventual juga terjadi kepunahan secara besar-besaran akibat aktivitas bumi, iklim, dan luar angkasa. Jenis-jenis keanekaragaman hayati yaitu (Leveque & Mounolou, 2003):
·         Keanekaragaman genetik (genetic diversity); Jumlah total informasi genetik yang terkandung di dalam individu tumbuhan, hewan dan mikroorganisme yang mendiami bumi.
·         Keanekaragaman spesies (species diversity); Keaneraragaman organisme hidup di bumi (diperkirakan berjumlah 5 - 50 juta), hanya 1,4 juta yang baru dipelajari.
·         Keanekaragaman ekosistem (ecosystem diversity); Keanekaragaman habitat, komunitas biotik dan proses ekologi di biosfer atau dunia laut.

Gambar 1. Keanekaragaman hayati

2.3. Fenomena Perubahan Iklim
Pada awal kehidupan manusia masalah bencana dan perubahan iklim mungkin saja belum begitu berperan dalam kehidupan manusia awal, kecuali pada masa-masa ekstrim seperti perubahan jaman es, dan sebagainya. Namun, setelah memasuki abad-abad terakhir, sebagian aktivitas manusia di bumi telah membuat planet ini kian panas. 
Jika kita lihat kebelakang maka fenomena pemanasan global bisa dikatakan berawal sejak revolusi industri, tingkat karbon dioksida meningkat tajam diudara. Sebelum masa industri, aktivitas manusia tidak banyak mengeluarkan gas rumah kaca penyebab pemanasan global. dan perubahan iklim Namun dengan adanya pertumbuhan jumlah penduduk, pembabatan hutan, industri peternakan, dan penggunaan bahan bakar fosil menyebabkan gas rumah kaca di atmosfir bertambah banyak dan menyumbang pemanasan global.

2.4.  Perubahan Iklim di Indonesia
Indonesia mempunyai karakteristik khusus, baik dilihat dari posisi, maupun keberadaannya, sehingga mempunyai karakteristik iklim yang spesifik. Di Indonesia terdapat tiga jenis iklim yang mempengaruhi iklim di Indonesia, yaitu iklim musim (muson), iklim tropika (iklim panas), dan iklim laut. (Anonim, 2012). Ketiga jenis iklim tersebut yaitu:
1.    Iklim Musim (Iklim Muson)
Iklim jenis ini sangat dipengaruhi oleh angin musiman yang berubah-ubah setiap periode tertentu. Biasanya satu periode perubahan angin muson adalah 6 bulan. Iklim musim terdiri dari 2 jenis, yaitu Angin musim barat daya (Muson Barat) dan Angin musim timur laut (Muson Tumur).
Angin muson barat bertiup sekitar bulan Oktober hingga April yang basah sehingga membawa musim hujan/penghujan. Angin muson timur bertiup sekitar bulan April hingga bulan Oktober yang sifatnya kering yang mengakibatkan wilayah Indonesia mengalami musim kering/kemarau.
Iklim Muson terjadi karena pengaruh angin musim yang bertiup berganti arah tiap-tiap setengah tahun sekali. Angin musim di Indonesia terdiri atas Musim Barat Daya dan Angin Musim Timur Laut.
2.   Angin Musim Barat Daya.
Angin Musim Barat Daya adalah angin yang bertiup antara bulan Oktober sampai April sifatnya basah. Pada bulan-bulan tersebut, Indonesia mengalami musim penghujan.


3.   Angin Musim Timur Laut
Angin Musim Timur Laut adalah angin yang bertiup antara bulan April sampai Oktober, sifatnya kering. Akibatnya, pada bulan-bulan tersebut, Indonesia mengalami musim kemarau.
http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSmIucEAwfyjMj_KkrmwJuOrujARl8p9rYJA3_Tr-kmWW8qh3I2
Gambar 2. Proses terjadinya iklim Muson

2.5.    Iklim Tropis/Tropika (Iklim Panas)
Wilayah yang berada di sekitar garis khatulistiwa otomatis akan mengalami iklim tropis yang bersifat panas dan hanya memiliki dua musim yaitu musim kemarau dan musim hujan. Umumnya wilayah Asia tenggara memiliki iklim tropis, sedangkan negara Eropa dan Amerika Utara mengalami iklim subtropis. Iklim tropis bersifat panas sehingga wilayah Indonesia panas yang mengundang banyak curah hujan atau Hujan Naik Tropika.
Indonesia terletak di sekitar garis khatulistiwa. Akibatnya, Indonesia termasuk daerah tropika (panas). Keadaan cuaca di Indonesia rata-rata panas mengakibatkan negara Indonesia beriklim tropika (panas), Iklim ini berakibat banyak hujan yang disebut Hujan Naik Tropika. Sebuah iklim tropis adalah iklim yang tropis . Dalam klasifikasi iklim Köppen itu adalah non- kering iklim di mana semua dua belas bulan memiliki temperatur rata-rata di atas 18 ° C (64 ° F). Berbeda dengan ekstra-tropis, dimana terdapat variasi kuat dalam panjang hari, dan karenanya suhu, dengan musim, suhu tropis tetap relatif konstan sepanjang tahun dan variasi musiman yang didominasi oleh presipitasi. Iklim tropis terletak antara 0° – 231/2° LU/LS dan hampir 40 % dari permukaan bumi. Ciri-ciri iklim tropis yaitu:
·         Suhu udara rata-rata tinggi, karena matahari selalu vertikal. Umumnya suhu udara antara 20- 23°C. Bahkan di beberapa tempat rata-rata suhu tahunannya mencapai 30°C.
·         Amplitudo suhu rata-rata tahunan kecil. Di kwatulistiwa antara 1 – 5°C, sedangkan ampitudo hariannya lebih besar.
·         Tekanan udaranya rendah dan perubahannya secara perlahan dan beraturan.
·         Hujan banyak dan lebih banyak dari daerah-daerah lain di dunia
http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQvNIU7eQiMts84kkg3ExY779ey5dDa0vrW1rzcfODpF-UzVGpusA
Gambar 3. Pembagian Iklim di Dunia
2.6.    Iklim Laut
Indonesia yang merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak wilayah laut mengakibatkan penguapan air laut menjadi udara yang lembab dan curah hujan yang tinggi. Negara Indonesia adalah negara kepulauan. Sebagian besar tanah daratan Indonesia dikelilingi oleh laut atau samudra. Itulah sebabnya di Indonesia terdapat iklim laut. Sifat iklim ini lembab dan banyak mendatangkan hujan. Iklim laut berada di daerah (1) tropis dan sub tropis; dan (2) daerah sedang. Keadaan iklim di kedua daerah tersebut sangat berbeda.
Ciri iklim laut di daerah tropis dan sub tropis sampai garis lintang 40°, sebagai berikut:
·         Suhu rata-rata tahunan rendah;
·         Amplitudo suhu harian rendah/kecil
·         Banyak awan, dan
·         Sering hujan lebat disertai badai
Ciri-ciri iklim laut di daerah sedang sebagai berikut:
·         Amplituda suhu harian dan tahunan kecil
·         Banyak awan
·         Banyak hujan di musim dingin dan umumnya hujan rintik-rintik
·         Pergantian antara musim panas dan dingin terjadi tidak mendadak dan tiba-tiba.
http://t2.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR90Jz2_IGxOIc7LQ1cYk5Qjk0joRbs2TMUMlYigDd-NHiKGnTqWg
Gambar 4. Iklim di Asia Tenggara
Jika kita cermati unsur iklim yang sering dan menarik untuk dikaji di Indonesia adalah curah hujan, karena tidak semua wilayah Indonesia mempunyai pola hujan yang sama, diantaranya ada yang mempunyai pola munsonal, ekuatorial dan lokal.
http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTAFDLNJAsYRgXjHSpLyOJyJo73SQ74m64060Rj8PQgLExLaLw5jw
Gambar 5. Curah hujan di Indonesia
2.7. Hubungan Perubahan Iklim Terhadap Bencana Alam di Indonesia
Menurut beberapa sumber, iklim di Indonesia telah menjadi lebih hangat selama abad  ke-20. Suhu rata-rata tahunan telah meningkat sekitar 0,3˚C sejak 1900 dengan suhu tahun 1990-an merupakan dekade terhangat dalam abad ini dan tahun 1998 merupakan tahun terhangat, hampir 1˚C di atas rata-rata tahun 1961-1990. Peningkatan kehangatan ini terjadi dalam semua musim di tahun itu. Curah hujan tahunan telah turun sebesar 2 hingga 3 persen di wilayah Indonesia di abad ini dengan pengurangan tertinggi terjadi selama perioda Desember- Febuari, yang merupakan musim terbasah dalam setahun (Anonim, 2012).
Curah hujan di beberapa bagian di Indonesia dipengaruhi kuat oleh kejadian El Nino dan kekeringan umumnya telah terjadi selama kejadian El Nino terakhir dalam tahun 1082/1983, 1986/1987 dan 1997/1998. Lalu muncul pertanyaan, adakah hubungan antara bencana di Indonesia terkait dengan aktivitas global semacam pemanasan global serta El Nino? Jika ada, apa implikasinya terhadap bencana ekologi dan manajemen sumber daya air kita?
http://4.bp.blogspot.com/_NOuivbMciGM/TSjWpEju_tI/AAAAAAAAB0w/35To7n-L3AE/s1600/bencana+alam+karena+perubahan+iklim.jpeg
Gambar 6. Bencana El Nino
Banjir dan kekeringan pada dasarnya terkait dengan kemampuan alam dan manusia mengelola ketersediaan air di Bumi. Banjir terjadi karena jumlah air hujan yang turun di daratan dalam intensitas berlebihan pada saat alam tidak mampu menampung. Kemudian dalam skala lokal intensitas curah hujan yang amat ekstrem dalam waktu lama akan menjadi penyebab banjir besar dan longsor di banyak tempat. Sementara itu, kekeringan terjadi karena jumlah hujan yang turun tidak mencukupi kebutuhan kehidupan. Kemudian ketersediaan air yang kian terbatas akan meningkatkan kompetisi untuk mendapatkan dan tidak jarang menimbulkan konflik dalam pemanfaatan (Anonim, 2011).
Jika kita melihat dalam skala lebih luas, peningkatan suhu secara global menyebabkan terjadinya percepatan pelelehan lapisan es di Kutub Utara dan Kutub Selatan sekaligus terjadinya pencairan dan penipisan lapisan gunung-gunung es di dunia. Dilain pihak kemarau panjang yang disebabkan fenomena El Nino yang memengaruhi siklus hidrologi lokal dan regional akan menyebabkan kian kritisnya ketersediaan air untuk menopang kebutuhan 6,5 miliar penduduk Bumi saat ini (Anonim, 2011).
http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcTe90j4ogvmeCaeTFUOXr6_Fl6kxq6I7TRwcBg8OfvTVeK8FBblW4eHDhT3
Gambar 7. Sumber Daya Air di Indonesia
2.8. Potensi Banjir di Wilayah Indonesia
Berbicara mengenai potensi banjir di wilayah Indonesia, maka hal itu tidak dapat lepas dari gangguan terhadap siklus hidrologi di Indonesia itu sendiri. Siklus air/hidrologi yang mengalami gangguan tersebut baik langsung maupun tidak langsung akan berdampak terhadap musim atau iklim lokal di Indonesia, lebih jauh hal itu terlihat pada terjadinya perubahan musim hujan atau kemarau yang akan berdampak serius terhadap manajemen ketersediaan air.
Dampak lain yang juga serius adalah meningkatnya tinggi muka air laut yang terjadi hampir bersamaan dengan penurunan permukaan tanah (land subsidence) yang diakibatkan penurunan muka air tanah karena eksploitasi air tanah yang berlebihan dikota-kota besar. Keadaan ini akan menyebabkan sebagian wilayah kota yang selama ini relatif aman dari ancaman banjir akan menjadi daerah potensi banjir baru.
Jika eksploitasi air tanah terus berlangsung, maka penurunan muka tanah dan intrusi air laut kian sulit dicegah dan dikendalikan (Hal ini biasa terjadi di kota-kota besar yang berada di daerah pantai, seperti Jakarta, Semarang, Surabaya). Kondisi ini akan menyebabkan kerusakan lingkungan yang makin parah dan membutuhkan biaya besar untuk dapat memulihkannya.
http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcToSuYaCWi_aCR1VXnegVrMrG6cxiJalC6HqCcJLIEUP2NvK_Zj
Gambar 8. Daerah Potensi Banjir di Pulau Jawa

2.9. Faktor Penyebab Kepunahan Spesies
Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadi kepunahan spesies. Yang
sering menjadi fokus penyebab kepunahan spesies adalah berubahnya habitat
mahluk hidup yang dapat disebabkan oleh aktivitas manusia seperti konversi
lahan atau perubahan faktor lingkungan. Dari hasil pengamatan World Conservation Monitoring Center menunjukan ada beberapa faktor yang mempengaruhi kepunahan spesies.
Pada Gambar 9 dapat dijelaskan bahwa ada 4 (empat) faktor utama yang
mempengaruhi kepunahan spesies. Faktor tersebut adalah hilangnya atau berubahnya habitat, eksploitasi, masuknya spesies baru dan lain-lain. Faktor pengaruh berubahnya atau hilangnya habitat akibat dari pengaruh iklim dan alam termasuk kategori lain-lain. Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa pengaruh iklim terhadap kepunahan spesies antara lebih kecil dari 15%.

Gambar 9. Faktor Penyebab Kepunahan Spesies
2.10. Keanekaragaman Hayati dan Perubahan Iklim
Tingkat perubahan iklim sekarang melebihi semua variasi alami dalam 1000 tahun terakhir. Debat tentang iklim perubahan telah sekarang mencapai suatu langkah dimana kebanyakan ilmuwan menerima bahwa, emisi gas rumah kaca mengakibatkan perubahan iklim yang berdampak berbagai sendi-sendi kehidupan.
Salah satu sendi kehidupan yang vital dan terancam oleh adanya perubahan iklim ini adalah keanekaragaman hayati (biodiversitas) dan ekosistem. Biodiversitas sangat berkaitan erat dengan perubahan iklim. Perubahan iklim berpengaruh terhadap perubahan keanekaragaman hayati dan ekosistem baik langsung maupun tidak langsung.


Dampak langsung perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati :
Pada bagian ini akan dibahas tentang dampak langsung perubahan iklim yang paling berpengaruh terhadap keanekaragaman hayati :
a)   Spesies ranges (cakupan jenis)
Perubahan Iklim berdampak pada pada temperatur dan curah hujan. Hal ini mengakibatkan beberapa spesies tidak dapat menyesuaikan diri, terutama spesies yang mempunyai kisaran toleransi yang rendah terhadap fluktuasi suhu.
b)   Perubahan fenologi
Perubahan iklim akan menyebabkan pergeseran dalam siklus yang reproduksi dan pertumbuhan dari jenis-jenis organisme, sebagai contoh migrasi burung terjadi lebih awal dan menyebabkan proses reproduksi terganggu karena telur tidak dapat dibuahi. Perubahan iklim juga dapat mengubah siklus hidup beberapa hama dan penyakit, sehingga akan terjadi wabah penyakit.
c)   Perubahan interaksi antar spesies
Dampak yang iklim perubahan akan berakibat pada interaksi antar spesies semakin kompleks (predation, kompetisi, penyerbukan dan penyakit). Hal itu membuat ekosistem tidak berfungsi secara ideal.
d)   Laju kepunahan
Kepunahan telah menjadi kenyataan sejak hidup itu sendiri muncul. Beberapa juta spesies yang ada sekarang ini merupakan spesies yang berhasil bertahan dari kurang lebih setengah milyar spesies yang diduga pernah ada. Kepunahan merupakan proses alami yang terjadi secara alami. Spesies telah berkembang dan punah sejak kehidupan bermula. Kita dapat memahami ini melalui catatan fosil. Tetapi, sekarang spesies menjadi punah dengan laju yang lebih tinggi daripada waktu sebelumnya dalam sejarah geologi, hampir keseluruhannya disebabkan oleh kegiatan manusia. Di masa yang lalu spesies yang punah akan digantikan oleh spesies baru yang berkembang dan mengisi celah atau ruang yang ditinggalkan.
Pada saat sekarang, hal ini tidak akan mungkin terjadi karena banyak habitat telah rusak dan hilang. Kelangsungan hidup rata-rata suatu spesies sekiar 5 juta tahun. Rata-rata 900.000 spesies telah menjadi punah setiap 1 juta per tahun dalam 200 juta tahun terakhir. Laju kepunahan secara kasar diduga sebesar satu dalam satu persembilan tahun. Laju kepunahan yang diakibatkan oleh ulah manusia saat ini beratus-ratus kali lebil tinggi.
Perubahan iklim yang lebih menyebar luas tampaknya akan terjadi dalam pada
masa mendatang sejalan dengan bertambahnya akumulasi gas-gas rumah kaca dalam atmosfer yang selanjutnya akan meningkatkan suhu permukaan bumi. Perubahan ini akan menimbulkan tekanan yang cukup besar pada semua ekosistem, sehingga membuatnya semakin penting untuk mempertahankan keragaman alam sebagai alat untuk beradaptasi.
Beberapa kelompok spesies yang lebih rentan terhadap kepunahan daripada yang lain. Kelompok spesies tersebut adalah :
1)      Spesies pada ujung rantai makanan, seperti karnivora besar, misal harimau (Panthera tigris). Karnivora besar biasanya memerlukan teritorial yang luas untuk mendapatkan mangsa yang cukup. Oleh karena populasi manusia terus merambah areal hutan dan penyusutan habitat, maka jumlah karnivora yang dapat ditampung juga menurun.
2)      Spesies lokal endemik (spesies yang ditemukan hanya di suatu area geografis) dengan distribusi yang sangat terbatas, misalnya badak Jawa (Rhinoceros javanicus). Ini sangat rentan terhadap gangguan habitat lokal dan perkembangan manusia.
3)      Spesies dengan populasi kecil yang kronis. Bila populasi menjadi terlalu kecil, maka menemukan pasangan atau perkawinan (untuk bereproduksi) menjadi masalah yang serius, misalnya Panda.
4)      Spesies migratori adalah spesies yang memerlukan habitat yang cocok untuk mencari makan dan beristirahat pada lokasi yang terbentang luas sangat rentan terhadap kehilangan ‘stasiun habitat peristirahatannya.
5)      Spesies dengan siklus hidup yang sangat kompleks. Bila siklus hidup memerlukan beberapa elemen yang berbeda pada waktu yang sangat spesifik, maka spesies ini rentan bila ada gangguan pada salah satu elemen dalam siklus hidupnya.
6)      Spesies spesialis dengan persyaratan yang sangat sempit seperti sumber makanan yang spesifik, misal spesies tumbuhan tertentu. Satu spesies diperkirakan punah setiap harinya. Inventarisasi yang dilakukan oleh badan-badan internasional, seperti International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) dapat dijadikan indikasi tentang keterancaman spesies. Pada 1988 sebanyak 126 spesies burung, 63 spesies binatang lainnya dinyatakan berada di ambang kepunahan (BAPPENAS, 1993). Pada 2002, Red data List IUCN menunjukan 772 jenis flora dan fauna terancam punah, yaitu terdiri dari 147 spesies mamalia, 114 burung, 28 reptilia, 68 ikan, 3 moluska, dan 28 spesies lainnya serta 384 spesies tumbuhan. Salah satu spesies tumbuhan yang baru-baru ini juga dianggap telah punah adalah ramin (Gonystylus bancanus). Spesies tersebut sudah dimasukkan ke dalam Appendix III Convention of International Trade of Endengered Species of Flora and Fauna (CITES). Sekitar 240 spesies tanaman dinyatakan mulai langka, di antaranya banyak yang merupakan kerabat dekat tanaman budidaya. Paling tidak 52 spesies keluarga anggrek (Orchidaceae) dinyatakan langka.
e)   Penyusutan Keragaman Sumber Daya Genetik
Ancaman terhadap kelestarian sumberdaya genetik juga dapat ditimbulkan oleh adanya pengaruh pemanasan global. Beberapa varian dari tanaman dan hewan menjadi punah karena perubahan iklim. Kepunahan spesies tersebut menyebabkan sumberdaya genetic juga akan hilang. Ironisnya banyak sumberdaya genetic (plasma nutfah) belum diketahui apalagi dimanfaatkan, kita menghadapi kenyataan mereka telah hilang.
f)   Akibat dari perubahan iklim yang ekstrim
Efek perubahan iklim akan menimbulkan peristiwa ekstrim seperti meledaknya hama dan penyakit, musim kering yang berkepanjangan, El Niño, musim penghujan yang relatif pendek, namun curah hujan cukup tinggi, sehingga timbul dampak banjir dan tanah longsor. Peristiwa yang ekstrim ini akan mempengaruhi organisma, populasi dan ekosistem.
Gambar 10. Spesies yang terancam akibat perubahan iklim

2.11. Peranan Negara-Negara di Dunia
Peranan negara-negara di dunia dapat kita bagi menjadi 2, yaitu peran negatif dan peran positif. Diistilahkan peran negatif karena negara-negara di dunia sekarang ini pasti terlibat dalam menyumbang kerusakan ekosistem yang berdampak pada perubahan iklim, walaupun mungkin takarannya berbeda. 
Kemudian peran yang kedua yaitu peran positif, hal itu terlihat dari adanya alternatif solusi dalam mengatasi masalah perubahan iklim global yang terus dilakukan oleh negara-negara di dunia, khususnya oleh negara-negara industri sebagai penyumbang gas karbon terbesar didunia yang sangat mencemari lingkungan serta berdampak luas pada perubahan iklim. Sedangkan untuk negara miskin dan berkembang, terutama yang memiliki hutan sebagai paru-paru dunia mendapatkan tugas untuk merawat hutannya, tentunya dengan kompensasi dari negara-negara industri.
Inovasi pengembangan teknologi yang mampu memecahkan masalah secara simultan merupakan salah satu pilihan yang harus dilakukan untuk menyelamatkan masa depan kita bersama. Untuk itu, perlu dikembangkan kerjasama semua pihak, baik dari negara maju maupun negara berkembang untuk menangani masalah perubahan iklim yang berdampak terhadap bencana global.

2.11.  Adaptasi dan Mitigasi Bencana Perubahan Iklim
Kenapa adaptasi dan mitigasi saya masukkan dalam artikel pengaruh perubahan iklim ini? Mungkin kita semua bisa mencermati bahwa keduanya (adaptasi dan mitigasi) saat ini menjadi penting karena menyangkut strategi menghadapi perubahan iklim. Ini bisa dikatakan sebagai solusi yang paling mudah dilakukan oleh masing-masing dari kita untuk ikut menekan pengaruh perubahan iklim.
Mitigasi dalam hal ini sering diartikan sebagai pengurangan. Sedangkan adaptasi (adaptation) artinya penyesuaian diri. Melalui mitigasi, usaha yang dapat dilakukan adalah mengurangi sebab pemanasan global dari sumbernya. Gunanya agar laju pemanasan itu melambat. Kemudian pada saat bersamaan, dapat dilakukan persiapan diri untuk beradaptasi dengan perubahan yang ada. Sehingga diharapkan akan ditemukan suatu titik temu yang menjamin kelangsungan hidup manusia.
Salah satu alternatif solusi  dalam skala kecil, mitigasi bisa berupa gerakan cinta lingkungan seperti pengelolaan sampah, bike to work, mengurangi penggunaan plastik, menggunakan  AC yang non CFC, hemat energi dan lain sebagainya. Sedangkan beradaptasi dapat dilakukan dengan melakukan penataan lingkungan, penghijauan, menjaga daerah resapan, daur ulang sampah, dan lain-lain, sehingga harapannya Pengaruh Perubahan Iklim Terhadap Konservasi Alam itu tidak berdampak pada bencana yang lebih buruk, atau minimal dapat menekan bencana agar tidak semakin merusak kehidupan manusia.


















BAB III
PENUTUP

Perubahan iklim memberikan dampak yang luar biasa pada kehidupan mahkluk hidup khususnya pada keanekaragaman hayati. Salah satu dampaknya yaitu bisa menyebabkan kepunahan spesies. Berdasarkan hal tersebut maka perlu adanya upaya mitigasi dan adaptasi dalam rangka mencegah dan beradaptasi dengan perubahan iklim.
















DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Klimatologi pertanian. (online) http://www.google.com//klimatologi pertanian
Anonim.2010. Iklim di Indonesia. (online) http://www.google.com//iklim di Indonesia
Anonim, 2011. Perubahan iklim. (online) http://www.duniaesai.com/
Anonim, 2012. Iklim dan dirgantara. (online) http://iklim.dirgantara-lapan.or.id/
Leveque, C.  dan J. Mounolou. 2003. Biodiversity. John Wiley. New York
Wardiyatmoko. 2006. Geografi. Erlangga. Jakarta
Tjasyono, Bayong HK. 2004. Klimatologi. ITB. Bandung

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar