Jumat, 26 Oktober 2012

BAKU MUTU LINGKUNGAN


1.   Fungsi Baku Mutu Lingkungan
*    Untuk mengatakan atau menilai bahwa lingkungan telah rusak atau tercemar dipakai mutu baku lingkungan.
*    Kemampuan lingkungan sering diistilahkan dengan daya dukung lingkungan, daya toleransi lingkungan dan daya tegang lingkungan yang dalam istilah asing : carrying capacity.
*    Gangguan terhadap lingkungan diukur menurut besar kecilnya penyimpangan dari batas-batas yang telah ditetapkan sesuai dengan kemampuan atau daya tenggang lingkungan.
*    Untuk mengetahui telah terjadi perusakan atau pencemaran  lingkungan digunakan ► baku mutu lingkungan.
*    Sehubungan dengan baku mutu lingkungan, dikenal adanya nilai ambang batas ► merupakan batas-batas daya dukung, daya tenggang dan daya toleransi atau kemampuan lingkungan.
*    Nilai ambang batas ► batas tertinggi dan terendah dari kandungan zat-zat, mahluk hidup atau komponen-komponen lain dalam setiap interaksi yang berkenaan dengan lingkungan khususnya yang mempengaruhi mutu lingkungan.
*    Dapat dikatakan lingkungan tercemar apabila kondisi lingkungan telah melewati ambang batas (batas maksimum dan batas minimum) yang telah ditetapkan berdasarkan baku mutu lingkungan.

2.   Dasar Hukum
*    Dasar hukum baku mutu lingkungan terdapat dalam UU No.4 Thn 1982 pasal 15 yang berbunyi sebagai berikut:
“ Perlindungan lingkungan hidup dilakukan berdasarkan baku mutu lingkungan yang diatur dengan peraturan perundang-undangan”.

3.   Beberapa baku mutu lingkungan
*    Sehubungan dengan fungsi baku mutu lingkungan maka dalam hal menentukan apakah telah terjadi pencemaran dari kegiatan industri atau pabrik dipergunakan dua buah sistem baku mutu lingkungan, yaitu:
1.   Effluent Standard, merupakan kadar maksimum limbah yang diperbolehkan untuk dibuang ke lingkungan
2.   Stream Standard, merupakan batas kadar untuk sumberdaya tertentu, seperti sungai, waduk dan danau. Kadar yang ditetapkan berdasarkan pada kemampuan sumberdaya beserta sifat peruntukannya. Miasalnya batas kadar badan air untuk air minum akan berlainan dengan batas kadar bagi badan air untuk pertanian.
*    Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup dalam keputusannya No. KEP-03/MENKLH/II/1991 telah menetapkan baku mutu air pada sumber air, baku mutu limbah cair, baku mutu udara ambien, baku mutu udara emisi dan baku mutu air laut.
*    Dalam keputusan tersebut, yang dimaksud dengan:
1.   Baku mutu air pada sumber air, adalah batas kadar yang diperbolehkan bagi zat atau bahan pencemar terdapat dalam air, namun tetap berfungsi sesuai dengan peruntukannya.
2.   Baku mutu limbah cair adalah batas kadar yang diperbolehkan bagi zat atau bahan pencemar untuk dibuang dari sumber pencemaran ke dalam air pada sumber air, sehingga sehingga tidak meyebabkan dilampauinya baku mutu air.
3.   Baku mutu udara ambien adalah batas kadar yang diperbolehkan bagi zat atau bahan pencemar terdapat di udara, namun tidak menimbulkan gangguan terhadap mahluk hidup, tumbuh-tumbuhan dan atau benda.
4.   Baku mutu udara emisi adalah batas kadar yang diperbolehkan bagi zat atau bahan pencemar untuk dikeluarkan dari sumber pencemaran ke udara, sehingga tidak mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien
5.   Baku mutu air laut adalah batas atau kadar mahluk hidup, zat, energi, atau komponen lain yang ada atau harus ada, dan zat atau bahan pencemar yang ditenggang adanya dalam air laut.

B.  baku mutu air dan limbah cair
*    Kriteria mutu air diterapkan untuk menentukan kebijakasanaan perlindungan sumberdaya air dalam jangka panjang.
*    Sedangkan baku mutu air limbah (effluent standar) dipergunakan untuk perencanaan, perizinan, dan pengawasan mutu air limbah dari pelbagai sektor, seperti pertambangan dll.
*    Kriteria kualitas sumber air di Indonesia ditetapkan berdasarkan ►pemanfaatan sumber-sumber air tersebut dan mutu yang diisyaratkan.
*    Sedangkan baku mutu air limbah ditetapkan berdasarkan karakteristik suatu sumber air penampungan tersebut dan pemanfaatannya.
*    Badan air dapat digolongkan menjadi 5 yaitu:
1.   Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu.
2.   Golongan B, yaitu air baku yang baik untuk air minum dan rumah tangga dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan lainnya tetapi tidak sesuai  untuk golongan A.
3.   Golongan C, yaitu air yang baik untuk keperluan perikanan dan peternakan, dan dapat digunakan untuk keperluan lainnya tetapi tidak sesuai untuk keperluan tersebut pada golongan A dan B.
4.   Golongan D, yaitu air yang baik untuk keperluan pertanian dan dapat dipergunakan untuk perkantoran, industri, listrik tenaga air, dan untuk keperluan lainnya tetapi tidak sesuai untuk keperluan A, B,  dan C.
5.   Golongan E, yaitu air yang tidak sesuai untuk keperluan tersebut dalam golongan A, B, C, dan D.
*    Limbah cair harus memenuhi persyaratan:
1.   mutu limbah cair yang dibuang ke dalam air pada sumber air tidak boleh melampaui baku mutu limbah cair yang telah ditetapkan.
2.   tidak mengakibatkan turunnya kualitas air pada sumber air penerima limbah.
*    Hal tersebut mengharuskan agar setiap pembuangan limbah cair ke dalam air pada sumber air ►mencantumkan kuantitas dan kualitas limbah.
*    KEP – 03/ MENKLH/II/1991 telah menentukan baku mutu limbah cair untuk beberapa industri, antara lain:
1.    industri soda kaustik
2.    industri pelapisan logam
3.    industri penyamakan kulit
4.    industri pengilangan minyak
5.    industri minyak kelapa sawit
6.    industri pulp dan kertas
7.    industri karet
8.    industri gula
9.    industri tapioka
10. industri tekstil
11.  industri pupuk urea
12,  industri etanol
13. industri mono sodium glutamat
14. industri kayu lapis


C.  baku mutu udara
*    Banyaknya zat atau bahan pencemar yang terdapat dalam udara (kondisi udara) dapat diperoleh dari Badan Metereologi dan Geofisika Departemen Perhubungan.
*    Baku mutu udara ambien ditetapkan oleh Gubernur dengan memperhatikan kondisi  udara setempat, dan berpedoman pada baku mutu udara ambien yang telah ditetapkan oleh  Menteri. Demikian juga udara emisi.
*     Baku mutu udara ambien dan emisi ditetapkan dengan tujuan untuk melindungi kualitas udara disuatu daerah.
*    Hal tersebut juga mengharuskan agar mutu emisi limbah gas yang dibuang ke udara harus mencantumkan secara jelas dalam ijin pembuangan gas limbah.
*    Setiap kegiatan pembuangan limbah gas ke udara di tetapkan mutu emisinya dengan pengertian:
1.   mutu emisi dari limbah gas yang dibuang ke udara tidak melampaui baku mutu udara emisi yang telah ditetapkan
2.   tidak menyebabkan turunnya kualitas udara.
*    Perlindungan terhadap lingkungan hidup yang lain termasuk perlindungan sumberdaya alam nonhayati, konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, sumberdaya buatan dan cagar budaya ditetapkan oleh UU.

ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN

ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN

BAHAN AJAR MATA KULIAH ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN (AMDAL)

OLEH
OKSFRIANI J. SUMAMPOUW, M.Kes
Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat UNSRAT Manado

Lingkungan Hidup di Indonesia Lingkungan hidup dalam pengertian ekologi tidak mengenal batas wilayah negara ataupun wilayah administratif. Akan tetapi kalau lingkungan itu dikaitkan dengan pengelolaannya, maka batas wilayah wewenang pengelolaan tersebut harus jelas. Lingkungan Hidup Indonesia adalah lingkungan hidup yang ada dalam batas wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lingkungan hidup Indonesia menurut konsep kewilayahan merupakan suatu pengertian hukum. Dalam pengertian lingkungan hidup Indonesia tidaklah lain daripada Kawasan Nusantara. Lingkungan hidup Indonesia sebagai suatu ekosistem terdiri dari berbagai daerah, yang masing-masing sebagai subsistem yang meliputi aspek sosial budaya, ekonomi dan fisik, dengan corak ragam yang berbeda antara subsistem yang satu dengan subsistem yang lain dengan dengan daya dukung lingkungan yang berbeda. Pembinaan dan pengembangan yang didasarkan kepada keadaan daya dukung lingkungan akan meningkatkan keselarasan dan keseimbangan subsistem, yang berarti juga ketahanan subsistem. Garis Besar Haluan Negara (GBHN) dengan jelas menyebutkan bahwa sumberdaya alam dan budaya merupakan modal dasar pembangunan. Sebagai arahan pembangunan jangka panjang, GBHN menyebutkan bahwa : “Bangsa Indonesia menghendaki hubungan selaras antara manusia dengan Tuhan, dan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya”. Dengan demikian perlu adanya usaha agar hubungan manusia Indonesia dengan lingkungan semakin serasi. Sebagai modal dasar, sumberdaya alam harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, oleh karena itu harus selalu diupayakan agar kerusakan lingkungan sekecil mungkin. Hal ini dapat terjadi apabila analisis mengenai dampak lingkungan diterapkan pada setiap kegiatan yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan. Perhatian terhadap masalah lingkungan hidup di Indonesia diawali oleh seminar tentang “Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Pembangunan Nasional” yang diselenggarakan oleh Universitas Padjajaran di Bandung pada tahun 1972. Para Sarjana dan ahli Indonesia sudah lama mengikuti perkembangan masalah lingkungan, namun Pemerintah Indonesia baru mengenal masalah lingkungan secara resmi sejak mengikuti sidang khusus PBB tentang lingkungan hidup di Stockholm 5 Juni 1972. Pentingnya persoalan lingkungan hidup untuk segera ditangani secara khusus ditandai dengan adanya komitmen pemerintah yaitu dengan dibentuknya lembaga Kependudukan dan Lingkungan Hidup, demikian juga dengan pengembangan jaringan Pusat Studi Lingkungan yang berkedudukan di beberapa Universitas yang masing-masing mengarahkan pendidikan khusus. Sejak Indonesia mengikuti sidang khusus PBB 5 Juni 1972, Indonesia sepakat untuk menanggulangi masalah lingkungan bersama negara-negara lain. Dalam Pelita III masalah lingkungan hidup mendapat tanggapan khusus sebagai Program Pembangunan Nasional. Untuk pertama kali dalam kabinet, yaitu Kabinet Pembangunan III telah diangkat seorang Menteri yang mengkoordinasikan aparatur pemerintah dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup )Prof. DR. Emil Salim). Mengingat bahwa Bangsa Indonesia dewasa ini sedang giat melaksanakan pembangunan di segala bidang, maka yang harus menjadi perhatian adalah bahwa pembangunan itu tidak boleh mengorbankan lingkungan. Untuk itu lingkungan hidup perlu dilindungi, dan keperluan tersebut pada tahun 1982 telah terbentuk Undang-undang yang melindungi lingkungan hidup. Sebagai tindak lanjut begi perlindungan terhadap lingkungan hidup telah ditentukan pula antara lain Baku Mutu Lingkungan dan Peraturan Pemerintah No. 29 tahun 1986 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, dan sekarang telah diganti dengan Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 tentang Analisis mengenai Dampak Lingkungan. Dengan demikian kelayakan suatu proyek untuk sekarang bukan hanya ditinjau dari kelayakan ekonomi dan teknologi saja, tetapi juga dari lingkungan hidup. Perlu dikemukakan juga bahwa keacuhan kita terhadap lingkungan bukan untuk menghambat pembangunan (karena pada dasarnya pembangunan di Indonesia memang sangat diperlukan), tetapi justru agar pembangunan yang lestari memerlukan keutuhan lingkungan hidup. Dalam lingkungan hidup yang baik, akan terajadi interaksi antara berbagai jenis komponen yang selalu seimbang, tetapi keseimbangan tersebut harus dilihat dari kepentingan manusia, mengapa dikatakan demikian ?. Hal ini disebabkan karena pada hakekatnya lingkungan hidup bersifat antroposentris, artinya lingkungan hidup itu dipelihara, dibangun atau dikelola dengan sebaik-baiknya tidak lain hanya untuk kepentingan manusia semata. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan di Indonesia. AMDAL ini dibuat saat perencanaan suatu proyek yang diperkirakan akan memberikan pengaruh terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Yang dimaksud lingkungan hidup di sini adalah aspek fisik-kimia, ekologi, sosial-ekonomi, sosial-budaya, dan kesehatan masyarakat. Dasar hukum AMDAL adalah Peraturan Pemerintah No. 27 Tahun 1999 tentang "Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup". Dokumen AMDAL terdiri dari : • Dokumen Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan Hidup (KA-ANDAL) • Dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) • Dokumen Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup (RKL) • Dokumen Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RPL) AMDAL digunakan untuk: • Bahan bagi perencanaan pembangunan wilayah • Membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan lingkungan hidup dari rencana usaha dan/atau kegiatan • Memberi masukan untuk penyusunan disain rinci teknis dari rencana usaha dan/atau kegiatan • Memberi masukan untuk penyusunan rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup • Memberi informasi bagi masyarakat atas dampak yang ditimbulkan dari suatu rencana usaha dan atau kegiatan Pihak-pihak yang terlibat dalam proses AMDAL adalah: • Komisi Penilai AMDAL, komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL • Pemrakarsa, orang atau badan hukum yang bertanggungjawab atas suatu rencana usaha dan/atau kegiatan yang akan dilaksanakan, dan • masyarakat yang berkepentingan, masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL. Dalam pelaksanaannya, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu: 1. Penentuan kriteria wajib AMDAL, saat ini, Indonesia menggunakan/menerapkan penapisan 1 langkah dengan menggunakan daftar kegiatan wajib AMDAL (one step scoping by pre request list). Daftar kegiatan wajib AMDAL dapat dilihat di Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2006 2. Apabila kegiatan tidak tercantum dalam peraturan tersebut, maka wajib menyusun UKL-UPL, sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 86 Tahun 2002 3. Penyusunan AMDAL menggunakan Pedoman Penyusunan AMDAL sesuai dengan Permen LH NO. 08/2006 4. Kewenangan Penilaian didasarkan oleh Permen LH no. 05/2008 Dalam rangka pelaksanaan Undang – Undang No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, ketentuan tentang tata cara penyusunan dan penilaian AMDAL, telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. AMDAL adalah : Kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan\atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan\ atau kegiatan. Sedangkan yang dimaksud dengan dampak besar dan penting adalah perubahan lingkungan hidup yang mendasar, yang diakibatkan oleh suatu usaha dan\atau kegiatan. Usaha dan\atau kegiatan yang memungkinkan dapat menimbulkan dampak besar dan penting terhadap lingkungan hidup meliputi : 1. Perubahan bentuk lahan dan bentang alam. 2. Ekplorasi sumber daya alam, baik yang terbaharui maupun yang tak terbaharui. 3. Proses dan kegiatan yang secara potensial dapat menimbulkan pemborosan, pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, serta kemerosotan sumber daya alam dalam pemanfaatannya. 4. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi lingkungan alam, lingkungan buatan, serta lingkungan sosial dan budaya. 5. Proses dan kegiatan yang hasilnya akan dapat mempengaruhi pelestarian kawasan konservasi sumber daya alam dan\atau perlindungan cagar budaya. 6. Introduksi jenis tumbuh – tumbuhan, jenis hewan, dan jasad renik. 7. Pembuatan dan penggunaan lahan hayati dan non hayati. 8. Penerapan teknologi yang diperkirakan mempunyai potensi besar untuk mempengaruhi lingkungan hidup. 9. Kegiatan yang mempunyai resiko tinggi dan\atau mempengaruhi pertahanan negara. Jenis rencana usaha dan\atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL, tercantum dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor : 17 Tahun 2001. Sedangkan dampak penting suatu usaha atau kegiatan terhadap lingkungan hidup, didasarkan pada kriteria : 1. Jumlah manusia yang akan terkena dampak. 2. Luas wilayah persebaran dampak. 3. Lama dan intensitas dampak berlangsung. 4. Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak. 5. Sifat kumulatif dampak. 6. Berbalik atau tidak berbaliknya dampak. T u j u a n. Secara umum tujuan AMDAL adalah : Menjaga dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup serta menekan pencemaran sehingga dampak negatifnya menjadi serendah mungkin. Dalam pelaksanaannya ada dua hal pokok yang menjadi tujuan AMDAL yaitu : 1. Mengidentifikasi, memprakirakan, dan mengevaluasi dampak yang mungkin terjadi terhadap lingkungan hidup yang disebabkan oleh kegiatan yang direncanakan. 2. Meningkatkan dampak positif dan mengurangi sampai sekecil – kecilnya dampak negatif yang terjadi dengan melaksanakan RKL – RPL secara konsekuen. Proses AMDAL Suatu rencana usaha dan/ atau kegiatan wajib AMDAL atau tidak, dilakukan penapisan terlebih dulu dengan mengacu pada PP No. 27 Tahun 1999 dan Kep. Men. Lingkungan Hidup Nomor 17 Tahun 2001. Bagi rencana usaha dan/ atau kegiatan yang tidak wajib AMDAL, maka cukup menysusn Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL). Sedangkan rencana usaha dan/ atau kegiatan yang wajib AMDAL harus melakukan Studi AMDAL yang dituangkan dalam bentuk Dokumen AMDAL. Sebelum menyusun dokumen AMDAL yang pertama kali dilakukan adalah melakukan Pelingkupan yang merupakan proses untuk : 1. Identifikasi dampak potensial 2. Evaluasi dampak potensial 3. Pemusatan dampak besar dan penting hipotesis Hasil pelingkupan merupakan dasar penyusunan dokumen AMDAL yang terdiri dari : 1. Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA.ANDAL). 2. Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL). 3. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL). 4. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Dalam rangka penyusunan AMDAL, terdapat tiga komponen yang terkait dalam kegiatan, yaitu 1. Pemrakarsa. Adalah orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha dan/ atau kegiatan yang akan dilaksanakan. 2. Instansi yang bertanggung jawab. Adalah instansi yang berwenang memberikan keputusan kelayakan lingkungan hidup dengan pengertian bahwa kewenangan berada pada Kepala Instansi yang ditugasi mengendalikan dampak lingkungan. 3. Komisi penilai. Adalah komisi yang bertugas menilai Dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL) dengan pengertian ditingkat pusat oleh Komisi Penilai Pusat dan tingkat daerah oleh Komisis Penilai Daerah. AMDAL merupakan salah satu azas untuk menunjang pembangunan berwawasan lingkungan. AMDAL termasuk model yang sangat berguna bagi penanaman modal, pemerintah maupun masyarakat. Dengan berpedoman pada dokumen AMDAL, maka dampak negatif dari suatu usaha dan/atau kegiatan dapat diminimalkan dan dampak positifnya dapat ditingkatkan. Maksud Dan Kegunaan Studi AMDAL Maksud pekerjaan penyusunan AMDAL adalah sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi kegiatan proyek pada beberapa tahap antara lain: Pra konstruksi, Konstruksi, Operasi dan pasca operasi, terutama pada aspek yang diperkirakan akan menimbulkan dampak penting terhadap lingkungan; 2. mengidentifikasi rona awal terkait dengan area kegiatan proyek baik di tapak proyek maupun disekitar lokasi proyek; 3. memperkirakan dan mengevaluasi dampak penting dan timbal balik antara lingkungan dengan kegiatan proyek, 4. menyusun Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL) untuk melaksanakan pengelolaan lingkungan. Kegunaan Studi Hasil Studi AMDAL akan digunakan antara lain untuk 1. membantu proses pengambilan keputusan tentang kelayakan rencana proyek; 2. memberi masukkan untuk penyusunan desain rinci proyek berkaitan dengan peralatan pengelolaan dan pelindungan lingkungan; 3. menjadi arahan bagi pemrakarsa dalam melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan; 4. memberi informasi kepada masyarakat dan pihak yang terkait mengenai rencana kegiatan. Ruang lingkup studi AMDAL yang harus dilaksanakan meliputi: pekerjaan persiapan; pengumpulan data; deskripsi kegiatan; informasi rencana kegiatan kepada masyarakat; pengumpulan data sekunder; kajian kualitas udara dan tingkat kebisingan; kajian kualitas air; kajian biologi (flora dan fauna); kajian sosial-ekonomi & budaya, kajian kesehatan masyarakat; penyusunan Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA ANDAL), Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL), Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL), Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL), dan Ringkasan Eksekutif AMDAL yang telah disetujui instansi berwenang Fungsi AMDAL Pada waktu yang lampau, kebutuhan manusia akan sumber alam belum begitu besar karena jumlah manusianya sendiri masih relatif sedikit, di samping itu intensitas kegiatannya juga tidak besar. Pada saat-saat itu perubahan-perubahan pada lingkungan oleh aktifitas manusia masih dalam kemampuan alam untuk memulihkan diri secara alami. Tetapi aktifitas manusia makin lama makin besar sehingga menimbulkan perubahan lingkungan yang besar pula. Pada saat inilah manusia perlu berfikir apakah perubahan yang terjadi pada lingkungan itu tidak akan merugikan manusia. Manusia perlu memperkirakan apa yang akan terjadi akibat adanya kegiatan oleh manusia itu sendiri. AMDAL (Analisis Mengenai Danpak Lingkungan) merupakan alat untuk merencanakan tindakan preventif terhadap kerusakan lingkungan yang mungkin akan ditimbulkan oleh suatu aktifitas pembangunan yang direncanakan. Undang-undang No. 4 Tahun 1982 Pasal 1 menyatakan : “Analisis mengenai dampak lingkungan adalah hasil studi mengenai dampak suatu kegiatan yang direncanakan terhadap lingkungan hidup, yang diperlukan bagi proses pngambilan keputusan”. AMDAL harus dilakukan untuk proyek yang diperkirakan akan menimbulkan dampak penting, karena ini memang yang dikehendaki baik oleh Peraturan Pemerintah maupun oleh Undang-undang, dengan tujuan agar kualitas lingkungan tidak rusak karena adanya proyek-proyek pembangunan. Oleh karena itu pemilik proyek atau pemrakarsa akan melanggar perundangan bila tidak menyusun AMDAL, semua perizinan akan sulit didapat dan di samping itu pemilik proyek dapat dituntut dimuka pengadilan. Keharusan membuat AMDAL merupakan cara yang efektif untuk memaksa para pemilik proyek memperhatikan kualitas lingkungan, tidak hanya memikirkan keuntungan proyek sebesar mungkin tanpa memperhatikan dampak lingkungan yang timbul. Dampak dari suatu kegiatan, baik dampak negatif maupun dampak positif harus sudah diperkirakan sebelum kegiatan itu dimulai. Dengan adanya AMDAL, pengambil keputusan akan lebih luas wawasannya di dalam melaksanakan tugasnya. Karena di dalam suatu rencana kegiatan, banyak sekali hal-hal yang akan dikerjakan, maka AMDAL harus dapat membatasi diri, hanya mempelajari hal-hal yang penting bagi proses pengambilan keputusan. AMDAL ini sangat penting bagi negara berkembang khususnya Indonesia, karena Indonesia sedang giat melakasanakan pembangunan, dan untuk melaksanakan pembangunan maka lingkungan hidup banyak berubah, dengan adanya AMDAL maka perubahan tersebut dapat diperkirakan. Dampak kegiatan terhadap lingkungan hidup dapat berupa dampak positif maupun dampak negatif, hampir tidak mungkin bahwa dalam suatu kegiatan / pembangunan tidak ada dampak negatifnya. Dampak negatif yang kemungkinan timbul harus sudah diketahui sebelumnya (dengan MDAL), di samping itu AMDAL juga membahas cara-cara untuk menanggulangi / mengurangi dampak negatif. Agar supaya jumlah masyarakat yang dapat ikut merasakan hasil pembangunan meningkat, maka dampak positif perlu dikembangkan di dalam AMDAL. Dasar Hukum Undang-undang No. 4 tahun 1982 Pasal 16 berbunyi : “Setiap rencana yang diperkirakan mempunyai dampak penting terhadap lingkungan wajib dilengkapi dengan analisis mengenai dampak lingkungan yang pelaksanaannya diatur dengan peraturan pemerintah”. Peraturan Pemerintah yang dimaksud telah ada yaitu Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 1986 Tentang Analisis mengenai Dampak Lingkungan, dirasa kurang memadai, sehingga dicabut dan diganti dengan Peraturan Pemerintah No. 51 Tahun 1993 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Penjelasan dari Pasal 16 ini adalah sebagai berikut : “Pada dasarnya semua usaha dan kegiatan pembangunan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup. Perencanaan awal suatu usaha atau kegiatan pembangunan sudah harus memuat perkiraan dampaknya yang penting terhadap lingkungan hidup, baik fisik, non fisik, maupun sosial budaya dan kesehatan masyarakat dengan menyusun AMDAL. Berdasarkan analisis ini dapat diketahui secara lebih terinci dampak negatif dan dampak positif yang akan timbul dari usaha atau kegiatan tersebut, sehingga sejak dini telah dapat dipersiapkan langkah untuk menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positifnya”. Penentuan Dampak Penting Yang dimaksud dengan dampak adalah perubahan lingkungan kalau dengan proyek dan tanpa proyek untuk masa mendatang. Untuk masa yang akan datang, lingkungan itu akan berubah walaupun kita tidak melaksanakan proyek atau kegiatan. Contoh dampak pembangunan indudtri terhadap pertumbuhan penduduk di suatu tempat. Apabila tidak ada pembangunan industri, maka penduduk di suatu tempat 10 tahun yang akan datang misalnya 5.000.000 jiwa. Dengan adanya pembangunan industri maka jumlah penduduk di tempat tersebut untuk 10 tahun yang akan datang misalnya 6.000.000. Maka dampak pembangunan industri tersebut adalah pertambahan penduduk sebanyak 1.000.000 jiwa. Dampak yang penting ditentukan antara lain oleh : a. besar manusia yang terkena dampak; b. luas wilayah penyebaran dampak; c. lamanya dampak berlangsung; d. intensitas dampak; e. banyak komponen lainnya yang terkena dampa; f. sifat kumulatif dampak; g. berbalik (reversible) atau tidak terbalik (irreversible) dampak. Pemerintah dapat membantu golongan ekonomi lemah untuk melaksanakan AMDAL, yang bidang usahanya diperkirakan menimbulkan dampak penting. Yang dimaksud dampak penting adalah perubahan yang sangat mendasar yang disebabkan oleh sustu kegiatan. Bila kita hanya menggunakan penegrtian tersebut, masih dapat menimbulkan perbedaan pendapat untuk memperkirakan terjadinya dampak penting, maka diperlukan pedoman ukuran dampak penting. Hal-hal yang menentukan pentingnya dampak sustu kegiatan telah disebutkan di atas (pada penjelasan pasal 10 Undang-undang No. 4 tahun 1982). Proses AMDAL Analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) perlu dibedakan dengan analisis dampak lingkungan (ANDAL). AMDAL adalah keseluruhan proses yang meliputi : 1. Kerangka Acuan (KA) atau Term of Reference (TOR); 2. Analisis dampak lingkungan (ANDAL); 3. Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL); 4. Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL). Jadi terlihat di situ dengan jelas bahwa analisis dampak lingkungan (ANDAL) merupakan bagian dari AMDAL. B. PEDOMAN PENENTUAN DAMPAK PENTING 1. Jumlah manusia yang terkena dampak Setiap rencana kegiatan mempunyai sasaran atau target berapa manusia yang diperkirakan akan menikmati manfaat yang akan dilaksanakan. Dalam setiap kegiatan akan ada dampak positif dan dampak negatif. Baik dampak positif maupun dampak negatif yang timbul dari suatu kegiatan akan dirasakan baik oleh sejumlah manusia yang menjadi sasaran, maupun ioleh sejumlah manusia di luar sasaran. Oleh karena itu dampak lingkungan suatu kegiatan yang penentuannya didasarkan pada jumlah manusia yang terkena dampak menjadi penting bila : 1) Manusia yang terkena dampak lingkungan tetapi tidak termasuk pada sasaran yang diperkirakan dapat menikmati manfaat kegiatan yang direncanakan, jumlahnya sama atau bahkan lebih besar dari jumlah manusia yang dapat menikmati manfaat dari kegiatan tersebut; atau 2) Manusia yang terkena dampak lingkungan, baik yang termasuk maupun yang tidak termasuk dalam sasaran untuk menikmati rencana kegiatan, jumlahnya sama atau lebih besar dari jumlah manusia yang tidak akan terkena dampak lingkungan dalam wilayah dampak yang telah ditentukan menurut kerangka acuan bagi pembuatan analisis dampak lingkungan. 2. Luas wilayah persebaran dampak Perbandingan luas wilayah persebaran dampak dengan luas wilayah rencana kegiatan akan menentukan pentingnya dampak lingkungan. Dampak lingkungan dari suatu kegiatan itu penting dilihat dari perbandingan luas wilayah apabila : 1) Luas wilayah persebaran dampak paling sedikit dua kali lebih besar dari luas wilayah rencana kegiatan; 2) Luas wilayah persebaran dampak melampaui batas wilayah administrasi pada tingkat kabupaten ke atas dari tempat rencana kegiatan; 3) Luas wilayah persebaran dampak melampaui wilayah Negara Republik Indonesia sehingga mengancam keserasian hubungan dengan negara tetangga. 3. Lamanya dampak berlangsung Suatu kegiatan dapat menimbulkan dampak lingkungan pada suatu tahap tertentu atau pada berbagai tahap dari daur kegiatannya (pra-konstruksi, konstruksi dan pasca-kontruksi). Karena itu dampak lingkungan suatu rencana kegiatan menjadi penting apabila : 1) Dampak lingkungan berlangsung pada seluruh tahap pra-kontruksi, konstruksi dan pasca konstruksi; 2) Dampak lingkungan berlangsung selama minimal separuh dari umur kegiatan. 4. Intensitas dampak Dampak lingkungan suatu kegiatan itu mempunyai intensitas yang bervariasi mulai dari yang sangat ringan sampai yang sangat berat. Karena itu penentuan pentingnya dampak lingkungan juga dapat dilakukan berdasarkan intensitasnya dengan cara mengukur berat ringannya dampak yang dirasakan oleh yang terkena dampak dalam ruang lingkup populasinya dan/atau mengukur besarnya penyimpangan dari baku mutu lingkungan yang telah ditentukan dan/atau disepakati. Dampak lingkungan menjadi penting apabila : 1) Dampak negatif menyebabkan kemerosotan daya toleransi secara drastis dalam waktu yang relatif singkat dalam ruang yang relatif luas; 2) Dampak positif menyebabkan peningkatan daya toleransi secara drastis dalam waktu yang relatif singkat dalm ruang yang relatif luas. 5. Komponen lingkungan dalam AMDAL Dalam AMDAL komponen lingkungan dibedakan menjadi 3 yaitu komponen fisik, biotis dan sosekbudkesmas (sosial, ekonomi, budaya dan kesehatan masyarakat). Ketiga komponen tersebut dapat terkena dampak, hal ini tergantung dari kegiatan suatu proyek. Dampak lingkungan menjadi penting apabila komponen lingkungan yang terkena dampak jumlahnya besar dalam waktu yang relatif singkat dalam ruang yang relatif luas. 6. Sifat kumulatif dampak Dampak lingkungan dari suatu kegiatan dapat bersifat sementara yang muncul pada suatu tahap da;am daur kegiatan, kemudian berkurang dan akhirnya hilang; tetapi sebaliknya dampak lingkungan juga dapat bersifat kumulatif. Dampak lingkungan yang bersifat kumulatif diartikan bahwa semula tidak menimbulkan dampak, tetapi sumber dampaknya tertimbun perlahan-lahan dalam lingkungan, sehingga pada tahap akumulasi tertentu merupakan dampak penting. Di samping itu suatu dampak lingkungan dapat menjadi lebih berat bila berakumulasi dengan dampak lingkungan yang lain dalam wilayah persebarab dampak. Fenomena ini disebut kumulasi sinergitik. Sebaliknya kumulasi beberapa dampak lingkungan justru bahayanya dapat berkurang, fenomena ini disebut kumulatif antagonistik. Karena itu dampak lingkungan menjadi penting atas dasar sifat kumulatifnya apabila : 1) Akumulasi dampak terjadi dalam waktu yang relatif singkat dan ruang yang relatif luas sehingga bobot dampaknya bertambahbesar; 2) Terjadi fenomena sinegitik dan antogonistik dalam wilayah persebaran dampak. 7. Berbalik (reversible) atau tak berbalik (irreversible) Dampak lingkungan dapat menimbulkan perubahan yang tak berbalik. Misalnya dampak lingkungan menyebabkan orang menjadi cacat seumur hidup, hewan langka menjadi punah, dan tanah kritis. Karena itu dampak lingkungan menjadi penting bila ada konponen lingkungan yang terkena sehingga dampaknya tak berbalik. Makin banyak komponen lingkungan yang terkena dampak oleh suatu rencana kegiatan (yang mungkin diperlukan kembali), makin penting dampak lingkungan tersebut. MANFAAT AMDAL Manfaat penting AMDAL adalah sebagai berikut: 1. Manfaat bagi pengelola proyek. a. Sebagai bahan analisis dari proyek dan sasarannya. b. Sebagai sumber data kuantitatif dan kualitatif mengenai keadaan lingkungan dan sosial sekonomi pada saat itu. c. Sebagai informasi tentang identifikasi dan prediksi tentang keadaan lingkungan akibat adanya proyek. d. Sebagai sumber bahan penguji secara komprehensif dari perencanaan proyek sehingga dapat menemukan kelemahan dan kekurangannya. e. Untuk mengumpulkan bahan-bahan atau infomasi yang berguna menunjang proyek. f. Merumuskan masalah-masalah yang akan dihadapi dan menyiapkan pemecahannya, serta penyusunan rencana pengelolaan lingkungan dan pemantauannya. 2. Manfaat bagi pemilik modal. Pemilik modal di sini dapat berarti perorangaan, perusahaan, bank, ataupun pemerintah. Bagi pemilik modal AMDAL dapat menjamin keberhasilan penanaman modal. 3. Manfaat bagi pemerintah. Banyak sekali kegunaan bagi pemerintah di dalam mengusahakan kesejahteraan hidup rakyatnya dan menjamin lingkungan hidup yang baik. AMDAL akan sangat membantu pemerintah di dalam menentukan kebijaksanaan yang tepat di dalam perencanaan dan pengambilan keputusan dan peningkatan pelaksanaan pengelolaan lingkungan. 4. Manfaat lainnya. a. Dalam analisis dan kemajuan teknologi, khususnya teknologi yang berhubungan dengan teknologi pengelolaan dan pelestarian kemampuan lingkungan hidup yang seimbang dan serasi. b. Manfaat dalam penelitian. Pada dasarnya manfaat AMDAL adalah: 1. Mengidentifikasikan, memprakirakan, dan mengevaluasi dampak yang mungkin terjadi terhadap lingkungan hidup yang disebabkan oleh kegiatan yang direncanakan. 2. Meningkatkan dampak positif dan menangani sampai sekecil-kecilnya dampak negatif yang terjadi dengan melaksanakan RKL-RPL secara konsekuen, agar pembangunan berkelanjutan dapat tercapai.

Kamis, 25 Oktober 2012

Ekologi dan Antropologi Manusia


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Istilah Ekologi diperkenalkan oleh Ernest Haeckel (1869), berasal dari bahasa Yunani, yaitu: Oikos = Tempat Tinggal (rumah) Logos = Ilmu, telaah. Oleh karena itu Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan sesamanya dan dengan lingkungnya. Odum (1993) menyatakan bahwa ekologi adalah suatu studi tentang struktur dan fungsi ekosistem atau alam dan manusia sebagai bagiannya. Struktur ekosistem menunjukkan suatu keadaan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu termasuk keadaan densitas organisme, biomassa, penyebaran materi (unsur hara), energi, serta faktor-faktor fisik dan kimia lainnya yang menciptakan keadaan sistem tersebut.
Fungsi ekosistem menunjukkan hubungan sebab akibat yang terjadi secara keseluruhan antar komponen dalam sistem. Ini jelas membuktikan bahwa ekologi merupakan cabang ilmu yang mempelajari seluruh pola hubungan timbal balik antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk hidup lainnya, serta dengan semua komponen yang ada di sekitarnya. Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
Ekologi berusaha untuk menjelaskan:
1.      Kehidupan proses dan adaptasi
2.      Distribusi dan kelimpahan organisme
3.      Pergerakan bahan dan energi melalui masyarakat yang hidup
4.      Para suksesi pengembangan ekosistem, dan
5.      Para kelimpahan dan distribusi keanekaragaman hayati dalam konteks lingkungan .
Ekologi adalah ilmu manusia juga. Ada banyak aplikasi praktis ekologi dalam konservasi biologi, pengelolaan lahan basah, pengelolaan sumber daya alam (pertanian, kehutanan, dan perikanan), perencanaan kota (ekologi perkotaan), kesehatan masyarakat, ekonomi, dasar dan ilmu terapan dan interaksi sosial manusia (ekologi manusia). Ekosistem mempertahankan setiap kehidupa mendukung fungsi di planet ini, termasuk iklim regulasi, penyaringan air, tanah formasi (pedogenesis), makanan, serat, obat-obatan, pengendalian erosi, dan banyak fitur alam lainnya nilai ilmiah, sejarah atau rohani (PBB, 2010; de Groot et al, 2002; Aguirre, 2009).
Ruang lingkup ekologi meliputi beragam berinteraksi tingkat organisasi mencakup mikro-tingkat (misalnya, sel-sel) untuk skala planet (misalnya, ekosfer) fenomena. Ekosistem, misalnya, berisi populasi individu yang agregat menjadi komunitas ekologi yang berbeda. Hal ini dapat mengambil ribuan tahun untuk proses ekologi menjadi dewasa melalui dan sampai akhir tahap suksesi dari hutan. Luas ekosistem dapat sangat bervariasi dari kecil untuk besar. Sebuah pohon tunggal konsekuensi kecil dengan klasifikasi ekosistem hutan, namun kritis yang relevan dengan organisme kecil yang hidup di dan di atasnya (Stadler et al, 1998). Beberapa generasi dari aphid populasi dapat eksis selama umur dari daun tunggal. Masing-masing kutu daun, pada gilirannya, dukungan beragam bakteri masyarakat. Sifat sambungan di komunitas ekologi tidak dapat dijelaskan dengan mengetahui rincian dari setiap spesies dalam isolasi, karena pola yang muncul adalah tidak terungkap dan tidak diperkirakan sampai ekosistem dipelajari sebagai suatu keseluruhan yang terpadu. Beberapa prinsip ekologi, bagaimanapun, menunjukkan sifat kolektif dimana jumlah komponen menjelaskan sifat dari keseluruhan, seperti kelahiran tingkat populasi yang sama dengan jumlah kelahiran individu selama periode waktu yang ditetapkan (Humphreys and Douglas, 1997).



B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk membahas tentang antropologi ekologi, ekologi budaya dan manusia.

C. Manfaat Penulisan
Melalui tulisan ini diharapkan dapat menambah wawasan penulis dan pembaca tentang ekologi, antropologi, ekologi budaya dan manusia.

































BAB II
PEMBAHASAN

A. Istilah dalam Ekologi
1.   Ekologi hirarkis
Perilaku sistem pertama harus tersusun dalam tingkatan organisasi. Perilaku yang sesuai dengan tingkat yang lebih tinggi terjadi pada tingkat yang lambat. Sebaliknya, tingkat organisasi yang lebih rendah menunjukkan tingkat yang cepat. Misalnya, daun pohon individu merespon dengan cepat terhadap perubahan sesaat dalam intensitas cahaya, konsentrasi CO2, dan sejenisnya. Pertumbuhan pohon merespon lebih lambat dan ini mengintegrasikan perubahan jangka pendek (O’Neill et al, 1986).
Skala dari dinamika ekologi dapat beroperasi seperti sebuah pulau tertutup terhadap variabel situs lokal, seperti kutu daun bermigrasi di pohon, sementara pada saat yang sama tetap terbuka sehubungan dengan pengaruh skala yang lebih luas, seperti suasana atau iklim. Oleh karena itu, ahli ekologi telah menemukan cara hierarkis mengklasifikasi ekosistem dengan menganalisis data yang dikumpulkan dari unit skala yang lebih halus, seperti asosiasi vegetasi, iklim, dan jenis tanah, dan mengintegrasikan informasi ini untuk mengidentifikasi pola yang muncul lebih besar dari organisasi yang seragam dan proses yang beroperasi pada lokal untuk daerah, lanskap, dan skala kronologis.
Untuk struktur studi ekologi ke dalam suatu kerangka pemahaman dikelola, dunia biologi secara konseptual diatur sebagai hirarki bersarang organisasi, mulai dalam skala dari gen, untuk sel, untuk jaringan, untuk organ, untuk organisme, untuk spesies dan sampai dengan tingkat biosfer (Nachtomy et al, 2002). Bersama ini hierarkis skala bentuk kehidupan panarchy dan mereka menunjukkan non-linear perilaku; "non-linear mengacu pada fakta bahwa efek dan menyebabkan yang tidak proporsional, sehingga perubahan kecil dalam kondisi kritis variabel, seperti jumlah nitrogen pemecah masalah , dapat menyebabkan perubahan yang tidak proporsional, mungkin ireversibel, dalam sifat sistem" (Holling, 2004; Gotts, 2007; Levin, 1999).

2.   Keanekaragaman Hayati
Keanekaragaman hayati adalah berbagai kehidupan dan proses-prosesnya. Ini mencakup berbagai organisme hidup, perbedaan genetik di antara mereka, komunitas dan ekosistem di mana mereka terjadi, dan ekologi dan evolusi proses yang membuat mereka tetap berfungsi, namun senantiasa berubah dan beradaptasi (Noss and Carpenter, 1994).
Keanekaragaman Hayati menggambarkan keanekaragaman kehidupan dari gen untuk ekosistem dan bentang setiap tingkat organisasi biologis. Keanekaragaman hayati berarti hal yang berbeda untuk orang yang berbeda dan ada banyak cara untuk indeks, mengukur, mengkarakterisasi, dan mewakili organisasi yang kompleks (Noss, 1990). Keanekaragaman Hayati mencakup keanekaragaman jenis, ekosistem, keragaman genetik dan proses kompleks beroperasi pada dan di antara ini tingkat masing-masing (Wilson, 2000; Purvis and Hector, 2000). Keanekaragaman memainkan peran penting dalam kesehatan ekologis sebanyak itu tidak bagi kesehatan manusia. Mencegah atau memprioritaskan kepunahan spesies adalah salah satu cara untuk melestarikan keanekaragaman hayati, tetapi populasi, keragaman genetik dalam mereka dan proses-proses ekologi, seperti migrasi, sedang terancam pada skala global dan menghilang dengan cepat juga. Konservasi prioritas dan teknik manajemen memerlukan pendekatan yang berbeda dan pertimbangan untuk mengatasi ruang lingkup ekologi penuh keanekaragaman hayati. Populasi dan migrasi spesies, misalnya, indikator yang lebih sensitif dari layanan ekosistem yang mendukung dan memberikan kontribusi modal alam terhadap kesejahteraan umat manusia. Sebuah pemahaman tentang keanekaragaman hayati memiliki aplikasi praktis untuk ekosistem berbasis perencana konservasi sebagai mereka membuat keputusan yang bertanggung jawab ekologis dalam rekomendasi manajemen untuk perusahaan konsultan, pemerintah dan industry (Ostfeld, 2009; Tierney, 2009; Wilcove and Wikelski, 2008; Svenning et al, 2008).


B. Perkembangan Antropologi Ekologi
Sebagaimana dibahas dalam buku Vayda & Rappaport [V & R], telah ada berbagai pendekatan untuk hubungan antara masyarakat manusia dan lingkungan mereka dalam sejarah pemikiran ilmiah Barat. Ada beberapa yang dibahas ini dalam bagian ini yaitu 2 (dua) perspektif yaitu determinisme lingkungan dan possibilism. Hal ini benar-benar prekursor ekologi Anthro, tetapi memberikan bagian dari konteks yang dikembangkan. Secara khusus, karena banyak orang masih keliru menyamakan ekologi dengan penjelasan determinisme lingkungan.
1.   Determinisme lingkungan
a)      Determinisme lingkungan (ED) memiliki akar yang kuat dalam pemikiran Barat (misalnya, teori Hippocrates tentang "humor" dari Yunani kuno)
b)      Fitur penting klaim = ED bahwa fitur-fitur lingkungan secara langsung menentukan perilaku manusia (dan karenanya masyarakat)
c)      ED mengambil berbagai bentuk:
1)      Klaim yang kuat (lingkungan rekening untuk variasi yang paling sosial) vs yang lebih moderat (lingkungan mempengaruhi beberapa aspek)
2)      Berbagai faktor lingkungan dapat ditekankan (misalnya, iklim; topografi; bahan makanan)
d)     ED mencapai popularitas yang cukup besar antara berbagai cendekiawan abad ke-18 dan 19, sebagian sebagai produk dari Pencerahan - ED merupakan salah satu alternatif untuk determinisme ras, dan selaras dengan pandangan mengenai "kesatuan psikis umat manusia" (yaitu, gagasan bahwa proses berpikir orang di mana-mana yang fundamental) yang sama, sehingga diffs. harus karena sejarah lingkungan mereka bukannya bawaan
e)      Namun, dalam bentuk yang lebih kasar, DE seperti peka terhadap perbedaan budaya dan sejarah budaya sebagai determinisme ras itu digantikan
f)       Versi yang paling populer DE berasal efek langsung dari iklim pada variasi sosial manusia: misalnya, iklim panas menyebabkan gairah, orang malas yang gagal untuk membangun budaya; sangat dingin, iklim yang gelap menyebabkan orang pemurung, sementara lingkungan beriklim yang paling kondusif untuk elaborasi dari peradaban, dll
g)      Masalah utama dengan ED yatu:
1)      penggunaan korelasi longgar dan bukti anekdot (misalnya, pandangan Huntington bahwa iklim panas tumpul energi mental dan fisik didukung oleh pernyataan bahwa "tidak ada yang menyentuh buku serius di Virginia pada musim panas," dikutip dalam V & R)
2)      Mengabaikan bukti sebaliknya (misalnya, peradaban paling awal semua muncul di daerah tropis / subtropis panas: Mesir, Mesopotamia, Indus, Mesoamerika, pesisir Peru).
3)      Ketidakmampuan untuk menjelaskan terjadinya berbagai jenis masyarakat di lingkungan yang sama (baik secara berurutan atau secara simultan).
4)      Kecenderungan yang kuat terhadap peringkat etnosentris lingkungan (misalnya, Hippocrates menempatkan iklim yang ideal di Yunani, Cicero di Roma, Montesquieu di Prancis, dan Huntington di New England)
h)      Untuk alasan ini dan lain-lain, tidak ada ulama mengambil ED serius lagi, meskipun terus menjadi populer di kalangan rakyat teori
Possibilism
a)      Reaksi (lebih) diprediksi untuk ED adalah menyangkal lingkungan yang memainkan peran penting dalam menentukan sosiokultural [s/c] perbedaan
b)      Sejak menyangkal peran apa pun terhadap lingkungan terbang dalam menghadapi beberapa realitas yang jelas, lingkungan telah diberi peran kecil dari membatasi jangkauan kemungkinan s/c bentuk.
c)      Possibilism dikaitkan dengan penolakan antropologi dari setiap jenis non-determinisme budaya (ras, ekonomi, dan lainnya).
d)     Penolakan ini dimulai kira-kira sekitar 1900; berhubungan dengan antropologi mengintai rumput sendiri akademik (membedakan diri dari biologi, ekonomi, psikologi, dan lainnya).
e)      Esensi dari pandangan "possibilist" adalah bahwa lingkungan dapat membatasi, tetapi tidak secara langsung menyebabkan, s / c variasi.
f)       Artinya, faktor lingkungan dapat menjelaskan mengapa beberapa fitur budaya tidak terjadi di lingkungan tertentu (misalnya, tidak adanya pertanian di Arktik), tetapi tidak dapat menjelaskan mengapa mereka terjadi (adanya Agric di daerah lain).
g)      Seperti dengan ED, possibilism mengambil berbagai bentuk: beberapa possibilists keras menentang setiap peran yang signifikan untuk faktor lingkungan dalam menjelaskan s / c keragaman melampaui hal-hal yang jelas seperti adanya perkebunan nanas di Greenland, sementara yang lebih moderat melihat cara halus di mana lingkungan dapat membatasi penyebaran ciri-ciri budaya

3.   Pendekatan saat ini dalam Antropologi Ekologi
a)      Sementara beberapa antropolog kontemporer terus berlatih bentuk ekologi budaya Steward, sebagian besar telah pindah ke pendekatan yang berbeda (sementara fungsionalisme ekologi hanya gema samar di antara mereka yang fokus pada "ketahanan" dan "sosial-ekologi sistem," sebagaimana dicontohkan oleh Berkes kami & Turner 2006 membaca kemudian di kuartal)
b)      Kami akan menghadapi pendekatan utama saat ini di berbagai titik di kuartal ini, tapi saya singkat "preview" mereka di sini
Ethnobiologi
Secara singkat dibahas oleh Vayda & Rappaport, ethnobiologi memiliki sejarah panjang dalam anth ekologi, dan sekering sistematika biologis (taksonomi) dengan antropologi kognitif
1.      Ethnobiologi berfokus pada bagaimana orang memperhatikan lingkungan (terutama tumbuhan dan hewan), dan cara-cara di mana pengetahuan tersebut baik dibentuk oleh lingkungan dan bentuk pada gilirannya
2.      Ethnobiologi ditawarkan sebagai program UW (ANTH 458), dan dibahas dalam pembacaan kita oleh Drew (2005) dan Maffi (2005), antara lain
Sejarah ekologi
Pendekatan ini menekankan peran manusia telah dimainkan dalam membentuk dan mengubah lingkungan dari waktu ke waktu, dan umumnya memerlukan pandangan non-ekuilibrium ekosistem (kontras yang jelas untuk fungsionalisme ekologi)
1.      Pengaruh Bioscience besar pada DIA berasal dari ekologi lansekap, melainkan juga erat bersekutu dengan spesialisasi sosial-ilmu sejarah lingkungan
2.      Para Balee (2005) membaca adalah contoh kunci dari pendekatan HE
Ekologi politik
Seperti namanya, ekologi politik (EP) foregrounds isu-isu politik, yaitu berfokus pada isu-isu lingkungan sebagai arena perjuangan politik, baik terang-terangan (seperti dalam hak tanah atau konflik pencemaran lingkungan) dan rahasia (seperti dalam konflik antara pandangan pelestari standar "murni alam" vs masyarakat setempat pemandangan "tanah air" dan tempat-tempat untuk mata pencaharian)
Perilaku ekologi
Perilaku ekologi merupakan perpaduan dari biologi evolusioner dan teori keputusan (khususnya ekonomi mikro dan teori permainan), ia memiliki teori yang lebih sepenuhnya dikembangkan perubahan dan adaptasi dari bentuk-bentuk lain dari anth ekologi, dan dengan demikian menawarkan jawaban eksplisit untuk pertanyaan fungsionalisme.
Ekologi dalam politik
Ekologi menimbulkan banyak filsafat yang amat kuat dan pergerakan politik termasuk gerakan konservasi, kesehatan, lingkungan, dan ekologi yang kita kenal sekarang. Saat semuanya digabungkan dengan gerakan perdamaian dan Enam Asas, disebut gerakan hijau. Umumnya, mengambil kesehatan ekosistem yang pertama pada daftar moral manusia dan prioritas politik, seperti jalan buat mencapai kesehatan manusia dan keharmonisan sosial, dan ekonomi yang lebih baik.
Orang yang memiliki kepercayaan-kepercayaan itu disebut ekolog politik. Beberapa telah mengatur ke dalam Kelompok Hijau, namun ada benar-benar ekolog politik dalam kebanyakan partai politik. Sangat sering mereka memakai argumen dari ekologi buat melanjutkan kebijakan, khususnya kebijakan hutan dan energi. Seringkali argumen-argumen itu bertentangan satu sama lain, seperti banyak yang dilakukan akademisi juga.
Ekologi dalam ekonomi
Banyak ekolog menghubungkan ekologi dengan ekonomi manusia:
1.      Lynn Margulis mengatakan bahwa studi ekonomi bagaimana manusia membuat kehidupan. Studi ekologi bagaimana tiap binatang lainnya membuat kehidupan.
2.      Mike Nickerson mengatakan bahwa "ekonomi tiga perlima ekologi" sejak ekosistem menciptakan sumber dan membuang sampah, yang mana ekonomi menganggap dilakukan "untuk bebas".
Ekonomi ekologi dan teori perkembangan manusia mencoba memisahkan pertanyaan ekonomi dengan lainnya, namun susah. Banyak orang berpikir ekonomi baru saja menjadi bagian ekologi, dan ekonomi mengabaikannya salah. "Modal alam" ialah 1 contoh 1 teori yang menggabungkan 2 hal itu.
Ekologi dalam kacamata antropologi
Terkadang ekologi dibandingkan dengan antropologi, sebab keduanya menggunakan banyak metode untuk mempelajari satu hal yang kita tak bisa tinggal tanpa itu. Antropologi ialah tentang bagaimana tubuh dan pikiran kita dipengaruhi lingkungan kita, ekologi ialah tentang bagaimana lingkungan kita dipengaruhi tubuh dan pikiran kita.
Beberapa orang berpikir mereka hanya seorang ilmuwan, namun paradigma mekanistik bersikeras meletakkan subyek manusia dalam kontrol objek ekologi — masalah subyek-obyek. Namun dalam psikologi evolusioner atau psikoneuroimunologi misalnya jelas jika kemampuan manusia dan tantangan ekonomi berkembang bersama. Dengan baik ditetapkan Antoine de Saint-Exupery: "Bumi mengajarkan kita lebih banyak tentang diri kita daripada seluruh buku. Karena itu menolak kita. Manusia menemukan dirinya sendiri saat ia membandingkan dirinya terhadap hambatan."
Beberapa Cabang Ilmu dari Ekologi
Karena sifatnya yang masih sangat luas, maka ekologi mempunyai beberapa cabang ilmu yang lebih fokus, yaitu:
  • Ekologi tingkah laku
  • Ekologi komunitas dan sinekologi
  • Ekofisiologi
  • Ekologi ekosistem
  • Ekologi evolusi
  • Ekologi global
  • Ekologi manusia
  • Ekologi populasi

C. Ekologi Budaya
Ekologi budaya adalah studi tentang adaptasi manusia untuk lingkungan sosial dan fisik. Manusia adaptasi mengacu pada kedua proses biologis dan budaya yang memungkinkan populasi untuk bertahan hidup dan bereproduksi dalam lingkungan tertentu atau mengubah. Hal ini dapat dilakukan diakronis (memeriksa entitas yang ada di zaman yang berbeda), atau secara sinkronis (memeriksa sistem saat ini dan komponen-komponennya). Pendapat utamanya ialah bahwa lingkungan alam, dalam skala kecil atau masyarakat subsisten tergantung pada bagian atasnya yaitu kontributor utama organisasi sosial dan lembaga-lembaga manusia lainnya. Dalam dunia pendidikan, bila dikombinasikan dengan studi ekonomi politik, studi tentang ekonomi sebagai ilmu politik, menjadi ekologi politik. Hal ini juga membantu untuk mengetahui peristiwa sejarah seperti Sindrom Pulau Paskah .
Antropolog Julian Steward (1902-1972) menciptakan istilah, membayangkan ekologi budaya sebagai metodologi untuk memahami bagaimana manusia beradaptasi dengan berbagai lingkungan. Dalam Teori Perubahan Budaya: Metodologi Evolusi multilinear (1955), ekologi budaya merupakan "cara-cara dimana perubahan budaya yang disebabkan oleh adaptasi terhadap lingkungan." Sebuah titik kunci ialah bahwa setiap adaptasi manusia tertentu adalah sebagian diwariskan secara historis dan melibatkan teknologi, praktek, dan pengetahuan yang memungkinkan orang untuk hidup dalam suatu lingkungan. Ini berarti bahwa sementara lingkungan mempengaruhi karakter adaptasi manusia, itu tidak menentukan hal itu. Dilihat dalam jangka panjang, hal ini berarti bahwa lingkungan dan budaya berada pada lebih atau kurang trek evolusi terpisah dan bahwa kemampuan satu untuk mempengaruhi yang lain tergantung pada bagaimana masing-masing terstruktur.
Lingkungan fisik dan biologi mempengaruhi budaya telah terbukti kontroversial, karena menyiratkan unsur determinisme lingkungan atas tindakan manusia, yang beberapa ilmuwan sosial menemukan bermasalah, terutama yang menulis dari perspektif Marxis. Ekologi budaya mengakui bahwa ekologi lokal memainkan peran penting dalam membentuk budaya suatu daerah.
Metode Steward digunakan untuk:
1.      Dokumen teknologi & metode yang digunakan untuk mengeksploitasi lingkungan - untuk mendapatkan hidup dari itu.
2.      Melihat pola-pola perilaku manusia/budaya yang terkait dengan menggunakan lingkungan.
3.      Menilai berapa banyak pola-pola perilaku dipengaruhi aspek lain dari budaya (misalnya, bagaimana, di daerah rawan kekeringan, keprihatinan besar atas pola curah hujan berarti ini menjadi pusat kehidupan sehari-hari, dan menyebabkan pengembangan sistem keyakinan religius di mana curah hujan dan air pikir sangat kuat sistem kepercayaan ini mungkin tidak muncul dalam masyarakat di mana curah hujan yang baik untuk tanaman dapat diambil untuk diberikan,. atau di mana irigasi yang dipraktekkan).
Konsep Steward ekologi budaya menjadi luas di kalangan antropolog dan arkeolog dari pertengahan abad ke-20, meskipun mereka kemudian akan dikritik untuk determinisme lingkungan mereka. Ekologi budaya adalah salah satu prinsip utama dan faktor-faktor pendorong dalam pengembangan arkeologi prosesual pada tahun 1960, sebagai arkeolog perubahan budaya dipahami melalui kerangka teknologi dan dampaknya pada adaptasi lingkungan.
Ekologi Budaya dalam antropologi
Ekologi budaya yang dikembangkan oleh Steward merupakan bahasan utama antropologi. Ini berasal dari karya Franz Boas dan telah bercabang untuk menutupi sejumlah aspek masyarakat manusia, khususnya distribusi kekayaan dan kekuasaan dalam masyarakat, dan bagaimana yang mempengaruhi perilaku seperti penimbunan atau Gifting (misalnya Haida tradisi yang potlach di Kanada barat pantai).
Budaya ekologi sebagai sebuah proyek transdisciplinary
Salah satu konsepsi terakhir ekologi budaya adalah sebagai teori umum yang menganggap sebagai paradigma ekologi tidak hanya untuk ilmu alam dan manusia, tetapi untuk studi budaya juga. Dalam bukunya Die des ├ľkologie Wissens (Ekologi Pengetahuan), Petrus Finke menjelaskan bahwa teori ini menyatukan berbagai kebudayaan pengetahuan yang telah berevolusi dalam sejarah, dan yang telah dipisahkan menjadi disiplin ilmu yang lebih dan lebih khusus dan subdisiplin dalam evolusi modern ilmu pengetahuan (Finke 2005). Dalam pandangan ini, ekologi budaya menganggap lingkup kebudayaan manusia bukan sebagai terpisah dari tetapi sebagai interdependen dengan dan ditransfusikan oleh proses ekologi dan siklus energi alami. Pada saat yang sama, ia mengakui kemerdekaan relatif dan refleksif diri dinamika proses budaya. Sebagai ketergantungan budaya pada alam, dan adanya alam dapat dihilangkan dalam budaya, yang mendapatkan perhatian interdisipliner, perbedaan antara evolusi budaya dan evolusi alam semakin diakui oleh para ahli ekologi budaya. Bukan hukum genetika, informasi dan komunikasi telah menjadi kekuatan pendorong utama evolusi budaya (lihat Finke 2005, 2006). Dengan demikian, hukum kausalitas deterministik tidak berlaku untuk budaya dalam arti sempit, tetapi ada analogi tetap produktif yang dapat ditarik antara proses ekologi dan budaya.
Gregory Bateson merupaka orang pertama yang menarik analogi seperti dalam proyeknya dari sebuah Ecology of Mind (Bateson 1973), yang didasarkan pada prinsip-prinsip umum dari kompleks proses kehidupan yang dinamis, misalnya konsep loop umpan balik, yang dia lihat sebagai operasi kedua antara pikiran dan dunia dan di dalam pikiran itu sendiri.
Finke sekering gagasan ini dengan konsep-konsep dari teori sistem. Dia menjelaskan berbagai bagian dan subsistem masyarakat sebagai 'ekosistem budaya' dengan proses produksi mereka sendiri, konsumsi, dan pengurangan energi (fisik maupun psikis energi). Hal ini juga berlaku untuk ekosistem budaya seni dan sastra, yang mengikuti kekuatan internal mereka sendiri seleksi dan pembaruan diri, tetapi juga memiliki fungsi penting dalam sistem budaya secara keseluruhan.
Ekologi Budaya dalam studi sastra
Keterkaitan penting antara budaya dan alam telah menjadi fokus khusus dari budaya sastra dari awal kuno dalam mitos, ritual, dan oral bercerita, dalam legenda-legenda dan dongeng, dalam genre sastra pastoral, puisi alam. Dari perspektif ini, sastra itu sendiri dapat digambarkan sebagai media simbolik dari bentuk yang sangat kuat dari "ekologi budaya" (Zapf 2002). Teks sastra telah dipentaskan dan dieksplorasi, dalam skenario yang selalu baru, hubungan umpan balik yang kompleks dari sistem budaya yang berlaku dengan kebutuhan dan manifestasi manusia dan bukan manusia "alam." Dari tindakan paradoks regresi kreatif mereka memiliki kekuatan khusus mereka berasal inovasi dan budaya pembaruan diri.
Ekologi Budaya dalam geografi
Dalam geografi, ekologi budaya yang dikembangkan untuk menanggapi pendekatan "lanskap morfologi" dari Carl O. Sauer. Sauer School merupakan dikritik karena tidak ilmiah dan memegang prinsip ekologi budaya diterapkan ide dari ekologi dan teori sistem untuk memahami adaptasi manusia dengan lingkungan mereka. Ekologi budaya ini terfokus pada aliran energi dan bahan, memeriksa bagaimana keyakinan dan lembaga dalam suatu budaya diatur susun dengan ekologi alam yang mengelilinginya. Dalam perspektif ini manusia adalah sebagai menjadi bagian dari ekologi seperti halnya organisme lain. Praktisi penting dari bentuk ekologi budaya termasuk Karl Butzer dan David Stoddard .

D. Ekologi Manusia
Bergerak untuk menghasilkan resep untuk menyesuaikan budaya manusia dengan realitas ekologi juga sedang terjadi di Amerika Utara. Paulus Sears, pada tahun 1957 di University of Oregon membuat sebuah buku yang berjudul "Ekologi Manusia". Sears merupakan salah satu dari beberapa tokoh ekologi untuk berhasil menulis untuk khalayak umum. Sebuah dokumen Sears tentang petani Amerika yang membuat kesalahan dalam menciptakan kondisi yang menyebabkan bencana Dust Bowl. Buku ini memberikan momentum untuk gerakan konservasi tanah di Amerika Serikat.
Dampak Manusia tentang Alam
Selama waktu yang sama Dampak Manusia pada Alam, yang merupakan bagian dari seri 'Interdependensi di Alam' yang diterbitkan pada tahun 1969. Baik Russel dan buku Lauwerys merupakan tentang ekologi budaya, meskipun tidak berjudul seperti itu. Orang-orang masih mengalami kesulitan dalam melepaskan diri dari label mereka. Bahkan Awal dan kesalahan, yang diproduksi pada tahun 1970 oleh polymath ahli zoologi Lancelot Hogben, dengan subjudul Ilmu Sebelum Mulai, menempel antropologi sebagai titik acuan tradisional. Namun, kemiringan yang membuatnya jelas bahwa 'ekologi budaya' akan menjadi judul yang lebih tepat untuk menutupi luas deskripsi tentang bagaimana masyarakat awal beradaptasi dengan lingkungan dengan alat, teknologi dan pengelompokan sosial. Pada tahun 1973 fisikawan Yakub Bronowski menghasilkan The Pendakian Manusia, yang diringkas bagian serial televisi BBC megah tiga belas tentang semua cara di mana manusia telah membentuk bumi dan masa depannya.
Mengubah Wajah Bumi
Pada tahun 1980-an pandangan ekologi-fungsional manusia telah menang. Ini telah menjadi cara konvensional untuk menyajikan konsep-konsep ilmiah dalam perspektif ekologi hewan manusia mendominasi sebuah dunia kelebihan penduduk, dengan tujuan praktis menghasilkan budaya hijau. Hal ini dicontohkan oleh buku Simmons IG tentang Mengubah Wajah Bumi, dengan subjudul "Budaya Sejarah, dan Lingkungan" yang diterbitkan pada tahun 1989. Simmons merupakan ahli geografi, dan bukunya merupakan penghormatan kepada pengaruh peran manusia dalam Mengubah Wajah Bumi yang keluar pada tahun 1956.
Buku Simmons merupakan salah satu dari banyak interdisipliner budaya/lingkungan yang dipublikasi tahun 1970 dan 1980, yang memicu krisis di geografi berkaitan dengan materi subjek, akademik sub-divisi, dan batas-batas. Hal ini diselesaikan dengan resmi mengadopsi kerangka kerja konseptual sebagai pendekatan untuk memfasilitasi organisasi penelitian dan pengajaran yang memotong lintas divisi subjek tua. Ekologi budaya sebenarnya arena konseptual yang telah, selama enam dekade terakhir diperbolehkan sosiolog, fisikawan, ahli zoologi dan geografi untuk memasuki tanah intelektual umum dari sela-sela mata pelajaran spesialisasi mereka.
Hubungan di abad 21
Pada dekade pertama abad ke-21, ada publikasi yang berhubungan dengan cara-cara dimana manusia dapat mengembangkan hubungan budaya yang lebih dapat diterima dengan lingkungan. Contohnya ialah ekologi suci, sub topik ekologi budaya, diproduksi oleh Berkes Fikret pada tahun 1999. Ini berusaha pelajaran dari cara-cara hidup tradisional di Kanada Utara untuk membentuk persepsi lingkungan yang baru bagi penduduk kota. Ini konseptualisasi orang tertentu dan lingkungan berasal dari berbagai budaya tingkat pengetahuan lokal tentang spesies dan tempat, sistem sumber daya manajemen dengan menggunakan pengalaman lokal, lembaga-lembaga sosial dengan aturan dan kode perilaku, dan pandangan dunia melalui agama, etika dan sistem kepercayaan yang didefinisikan secara luas.
Meskipun perbedaan dalam konsep informasi, semua publikasi membawa pesan bahwa budaya adalah tindakan menyeimbangkan antara pola pikir yang ditujukan untuk eksploitasi sumber daya alam dan bahwa, yang melestarikan mereka.
Mungkin model terbaik ekologi budaya dalam konteks ini, paradoks, ketidakcocokan budaya dan ekologi yang telah terjadi ketika Eropa menekan kuno metode asli penggunaan lahan dan telah mencoba untuk menyelesaikan budaya Eropa pada tanah pertanian secara nyata mampu mendukung mereka. Ada ekologi suci yang berhubungan dengan kesadaran lingkungan, dan tugas ekologi budaya adalah untuk menginspirasi penduduk perkotaan untuk mengembangkan hubungan yang lebih dapat diterima budaya berkelanjutan dengan lingkungan yang mendukung mereka.
 



















BAB III
PENUTUP

1.      Ada beberapa hal yang dibahas dalam ekologi antropologi yaitu 2 (dua) perspektif tentang determinisme lingkungan dan possibilism.
2.      Ekologi budaya adalah studi tentang adaptasi manusia untuk lingkungan sosial dan fisik. Manusia adaptasi mengacu pada kedua proses biologis dan budaya yang memungkinkan populasi untuk bertahan hidup dan bereproduksi dalam lingkungan tertentu atau mengubah.
3.      Tugas ekologi budaya ialah untuk menginspirasi penduduk perkotaan untuk mengembangkan hubungan yang lebih dapat diterima budaya berkelanjutan dengan lingkungan yang mendukung mereka.
























DAFTAR PUSTAKA


Aguirre, AA (2009). "Keanekaragaman Hayati dan Kesehatan Manusia" EcoHealth 6:. 153. DOI : 10.1007/s10393-009-0242-0 .
de Groot, RS, Wilson, MA; Boumans, RMJ (2002). "Sebuah tipologi untuk klasifikasi, deskripsi dan penilaian fungsi ekosistem, barang dan jasa" Ekonomi Ekologi 41 (3):.
Gotts, NN (2007) "Ketahanan, panarchy, dan dunia-sistem analisis" Ekologi dan Masyarakat 12 (1):. .
Holling, CS (2004). "Memahami Kompleksitas Sistem Ekonomi, Ekologi, dan Sosial" Ekosistem 4 (5):.. 390-405 DOI : 10.1007/s10021-001-0101-5 .
Hutagalung RA. 2010. Ekologi Dasar. Jakarta. Hlm: 20-27.
Levin, SA (1999). penguasaan Rapuh: Kompleksitas dan bersama . Membaca, Massachusetts: Perseus
Nachtomy, Ohad, Shavit, Ayelet; Smith, Justin (2002). "Leibnizian organisme, individu bersarang, dan unit seleksi" Teori di Biosciences 121 (2):.. 205 DOI : 10.1007/s12064-002-0020-9 .
Noss, RF (1990). "Indikator untuk Pemantauan Keanekaragaman Hayati: Sebuah Pendekatan hirarkis" Konservasi Biologi 4 (4): 355-364 DOI : 10.1111/j.1523-1739.1990.tb00309.x . JSTOR 2385928 .
Noss, RF, Carpenter, AY (1994). Menyimpan warisan alam: melindungi dan memulihkan keanekaragaman hayati . Pulau Tekan. hal 443. ISBN 9781559632485 .
O'Neill, DL; DeAngelis, DL; Waide, JB; Allen, TFH (1986). Sebuah konsep hirarkis ekosistem . Princeton University Press. hal
Ostfeld, RS (2009) "Keanekaragaman Hayati kerugian dan munculnya patogen zoonosis" . Mikrobiologi Klinik dan Infeksi 15 (s1):
Perserikatan Bangsa-bangsa. 2010. Millenium Ecosystem Assessment - Laporan Sintesis"Stadler, B.; Michalzik, B.; M├╝ller, T. (1998). "Menghubungkan ekologi kutu dengan fluks unsur hara di hutan konifer" Ekologi 79 (5): 1514-25.. DOI : 10.1890/0012-9658 (1998) 079 [1514: LAEWNF] 2.0.CO; 2 . ISSN 0012-9658 .
Purvis, A.; Hector, A. (2000) "Mendapatkan ukuran keanekaragaman hayati" Alam 405 (6783):. Diakses 2010-03-16.
Scholes, RJ et al. (2008). "Menuju sistem keanekaragaman hayati global mengamati" Sains 321 (5892).:
Svenning, Jens-Kristen; Condi, R. (2008). "Keanekaragaman Hayati di dunia hangat" Sains 322 (5899):.. 206-7 DOI : 10.1126/science.1164542 . PMID 18845738 .
Tierney, GL dkk. (2009). "Monitoring dan evaluasi integritas ekologi dari ekosistem hutan" Frontiers di Ekologi dan Lingkungan 7 (6).: Diakses 2010-03-16.
Wilcove, DS; Wikelski, M. (2008) "Pergi, Pergi, Gone: Apakah Migrasi Hewan Menghilang" PLoS Biol 6 (7):.
Wilson, EO (2000). "Sebuah Peta Keragaman Hayati global" Sains 289 (5488):. 2279. DOI : 10.1126/science.289.5488.2279 . PMID 11041790